Terpangkasnya pelemahan rupiah mendapat dukungan dari pasar surat utang. Sebagian tenor kembali mencatat aksi beli, terutama dari tenor pendek dna menengah. Tenor 1 tahun mencatat penurunan yield 3,5 bps 6,73%, begitu juga tenor 2 tahun turun 1,5 bps ke 6,64% dan tenor 4 tahun 1,4 bps ke 6,84%.
Sementara, tenor 5 tahun turun lebih tipis 0,5% ke 6,89%, dan tenor 7 tahun tutun 0,1 bps ke 7%, dan tenor 8 tahun turun 1,1 bps ke 7%. Namun pada tenor acuan, yield masih tercatat naik 3,1 bps ke 7,08%, diikuti kenaikan yield di tenor 11 tahun 4,4 bps ke 7,1%, begitu juga tenor 20 tahun naik 1,8 bps ke 7,14%.
Hari ini, meredanya demonstrasi sedikit memberi ruang bagi rupiah untuk bernapas. Risiko gejolak sosial yang sempat dikhawatirkan setidaknya tak berkembang menjadi eskalasi yang lebih luas, dan menurunkan premi risiko yang sebelumnya melekat pada aset-aset rupiah.
Melansir Bloomberg, Credit Default Swap (CDS) 5 tahun hari ini berada di 84,66 turun dari 85,33 pada 19 Agustus lalu. Selain itu, pasar surat utang juga mendapat dukungan dari peralihan likuiditas dari berkurangnya frekuensi lelang instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
(dsp/aji)






























