Di sisi lain, Said menyoroti pergerakan nilai tukar rupiah. Dalam asumsi RAPBN 2026, rupiah dipatok sebesar Rp16.500 per dolar AS, sementara saat ini telah berada di sekitar Rp17.751 per dolar AS.
Pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 menganggarkan pembayaran bunga utang (PBU) yang mencapai Rp650 triliun. Angka tersebut naik 11,7% apabila dibandingkan dengan outlook PBU tahun 2026.
Jumlah tersebut terdiri atas PBU dalam negeri sebesar Rp589,68 triliun dan PBU luar negeri yang sebesar Rp60,63 triliun.
Namun, Pemerintah berkilah bahwa pertumbuhan PBU tahun 2027 tersebut masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2026 yang sebesar 13,2% (terhadap realisasi PBU tahun 2025).
Menurut Buku II Nota Keuangan beserta RAPBN Tahun Anggaran 2027, kewajiban PBU tersebut mencakup pembayaran kupon atas SBN (Surat Berharga Negara), bunga atas pinjaman, dan biaya lain yang timbul dalam rangka menjalankan program pengelolaan utang.
Sementara, posisi utang pemerintah mencapai Rp10.293,69 triliun sampai 30 Juni 2026. Angka ini naik 3,76% dari level utang pada Maret 2026 yang sebesar Rp9.920,42 triliun.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu), posisi utang pemerintah sampai akhir kuartal II-2026 itu setara dengan 41,26% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
(ell)





























