Pemerintah nantinya akan membentuk bursa yang mematok harga sekaligus memperdagangkan komoditas-komoditas utama andalan RI seperti CPO, batu bara, nikel.
"Ada [kemungkinan untuk mengintegrasikan ICDX dengan Bursa Mineral dan Komoditas], nanti kita lihat ininya. Bisa jadi kan mungkin bisa gabung, mungkin bisa sendiri," kata Prasetyo kepada awak media di halaman Istana Merdeka, Senin (17/8/2026).
Berbagai bursa mineral logam dan komoditas strategis sudah lebih dahulu ada di dunia sebelum Indonesia berencana mendirikan Icomex. Lantas, apa saja bursa mineral logam paling berpengaruh di dunia yang kerap dijadikan referensi harga transaksi?
Berikut daftarnya:
1. London Metal Exchange (LME)
Berbasis di London, Inggris; LME merupakan salah satu bursa komoditas paling berpengaruh dalam pembentukan harga logam dasar dunia. Bursa yang berbasis di London ini memperdagangkan aluminium, tembaga, timah, nikel, seng dan timbal.
Dalam situs resminya, LME mencatat rata-rata lebih dari 170.000 lot tembaga diperdagangkan setiap hari sepanjang 2025, dengan ukuran satu kontrak 25 ton.
Kontrak tembaganya dapat diselesaikan melalui penyerahan fisik di lebih dari 400 gudang pada 32 lokasi global. LME juga menyebut harga resminya sebagai benchmark global untuk tembaga yang digunakan dalam kontrak perdagangan dan transaksi lindung nilai.
LME juga menjadi salah satu acuan utama harga nikel global, karena harga nikel yang terbentuk di LME digunakan sebagai global reference price atau harga referenssi global, serta menjadi referensi dalam kontrak fisik.
2. Commodity Exchange (Comex)
Comex merupakan bursa berjangka yang berbasis di New York, Amerika Serikat (AS) yang fokus dalam perdagangan kontrak berjangka dan opsi logam mulia serta logam dasar, seperti; emas, perak, dan tembaga.
Dalam situs resminya, dijelaskan bahwa gold futures Comex menjadi kontrak berjangka emas terbesar dan paling likuid.
Kontrak tersebut juga menjadi acuan harga emas dunia, berukuran 100 troy ons dan diperdagangkan hampir 24 jam sehari.
3. Shanghai Futures Exchange (SHFE)
Shanghai Futures Exchange atau SHFE merupakan salah satu pusat perdagangan logam utama di Asia, yang terletak di Shanghai, China.
Didirikan pada 1999, SHFE berada di bawah pengawasan badan resmi pemerintah China.
SHFE memperdagangkan tembaga, aluminium, seng, timbal, nikel, timah, alumina, emas, perak serta berbagai produk baja.
Bursa tersebut juga menyediakan mekanisme penyerahan untuk berbagai komoditas yang diperdagangkan dan saat ini menjadi acuan penting bagi pasar fisik nikel di China.
4. Dalian Commodity Exchange (DCE)
Dalian Commodity Exchange atau DCE merupakan bursa komoditas berjangka yang berlokasi di Dalian, China. DCE didirikan pada 1993 dan memperdagangkan berbagai kontrak berjangka serta opsi produk pertanian, energi, dan industri.
DCE berfokus pada perdagangan bijih besi, kontrak bijih besi DCE memiliki ukuran 100 ton per kontrak dan diselesaikan melalui penyerahan fisik.
DCE juga menetapkan lokasi gudang dan fasilitas penyerahan yang ditunjuk untuk kontrak tersebut.
5. Multi Commodity Exchange of India (MCX)
Multi Commodity Exchange of India atau MCX memperdagangkan sejumlah logam dasar seperti aluminium, tembaga, timbal, nikel dan seng.
Bursa yang didirikan pada 2003 dan berbasis di Mumbai tersebut turut menyediakan kontrak emas dan perak.
Untuk emas, MCX mengklaim kontrak Gold 1 Kg miliknya, sebagai harga acuan emas di India.
6. Singapore Exchange (SGX)
Singapore Exchange atau SGX merupakan pasar sekuritas dan derivatif yang mengoperasikan pasar ekuitas, pendapatan tetap, mata uang, dan komoditas.
SGX juga memiliki posisi penting dalam perdagangan komoditas mineral logam di Asia, terutama bijih besi.
SGX menawarkan berbagai kontrak perdagangan bijih besi, antara lain; swap, berjangka, dan opsi bijih besi atau IODEX.
(wdh)




























