“Calon Gubernur BI dan Deputi Gubernur Senior [fit and proper test] tanggal 26 [Agustus], Deputi Gubernur tanggal 27 [Agustus],” kata Anggota Komisi XI Harris Turino kepada Bloomberg Technoz, Selasa (18/8/2026).
Berikut profil lengkap keempat calon petinggi BI :
Destry Damayanti
Destry lahir di Jakarta pada 1963. Ia memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia, kemudian melanjutkan studi ke Cornell University, New York, Amerika Serikat, dan meraih gelar Master of Science in the Field of Regional Science.
Karier profesional Destry dimulai pada 2000–2003 sebagai Senior Economic Adviser untuk Duta Besar Inggris di Indonesia. Dia kemudian menjadi peneliti sekaligus dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 2005–2006.
Destry kemudian bergabung dengan Mandiri Sekuritas sebagai Chief Economist, sebelum dipercaya menjabat Chief Economist Bank Mandiri pada periode 2011–2015.
Pada 2014–2015, ia juga memimpin Economic Task Force di bawah Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kariernya berlanjut sebagai Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk masa jabatan 2015–2019.
Destry resmi menjabat Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 74/P Tahun 2019 yang diterbitkan pada 29 Juli 2019. Dia mengucapkan sumpah jabatan pada 7 Agustus 2019 dan kemudian kembali mendapat persetujuan DPR untuk melanjutkan masa jabatannya sebagai
Deputi Gubernur Senior BI.
Pada akhirnya, Senin (27/7/2026), Destry ditunjuk sebagai Pjs Gubernur BI menggantikan Perry setelah pengunduran diri Perry.
Aida S. Budiman
Saat ini, Aida adalah Deputi Gubernur BI yang sudah mengampu jabatan tersebut selama lima tahun. Dia dilantik pada 6 Januari 2022 dengan masa jabatan hingga 2027 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 147/P Tanggal 24 Desember 2021.
Aida juga menjabat sebagai anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ex-officio yang berasal dari bank sentral.
Sebelum menjabat sebagai Deputi Gubernur BI, Aida menjabat sebagai Asisten Gubernur yang membawahi kebijakan strategis sektor moneter, bauran kebijakan BI dan sinergi dengan bauran kebijakan nasional periode 2020-2022.
Melansir laman resmi BI, Aida merupakan lulusan Sosial-Ekonomi Pertanian Agribisnis IPB University pada tahun 1987 dan melanjutkan pendidikannya di University of Southern California dan mendapatkan gelar Master di bidang Economics pada tahun 1996.
Setelah itu, Aida kembali melanjutkan pendidikannya di Claremont Graduate University dan mendapat gelar Phd di bidang Ekonomi pada tahun 2001. Pada periode ini, Aida memulai karirnya di BI tepatnya pada tahun 1991.
Sebelum menjabat sebagai Deputi Gubernur BI, Aida sempat menjabat sebagai Asisten Gubernur yang membawahi Kebijakan Strategis Sektor Moneter, Bauran Kebijakan BI, dan sinergi dengan bauran kebijakan nasional periode 2020-2022.
Jauh sebelum itu, Aida sempat menjabat sebagai Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter periode 2018 dan juga Kepala Departemen Internasional periode 2014-2018.
Sejak berkarier di BI, Aida telah memiliki pengalaman baik di kancah internasional maupun nasional. Pada tahun 2010-2012, Aida bertindak sebagai perwakilan dari 13 negara yang bergabung dalam kantor SEAVG guna menyuarakan aspirasi dan kepentingan di IMF.
Aida juga berpengalaman mewakili BI dalam working group untuk perumusan kebijakan internasional baik bilateral, regional, maupun multilateral.
Di kancah nasional, Aida memiliki pengalaman dalam penyusunan strategi nasional pengembangan sektor industri dan pariwisata, pengembangan ISEF, Financial Safety Net dan penggunaan mata uang regional, serta strategi peningkatan rating Indonesia.
Solikin M. Juhro
Solikin lahir di Surabaya pada 1967. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang Ekonomi dan Studi Pembangunan di Universitas Airlangga pada 1991.
Dia juga meraih gelar Master of Applied Economics dari University of Michigan pada 1998, gelar magister di bidang Ekonomi dari University of Maryland pada 2001, serta gelar doktor di bidang Ekonomi Moneter dari Universitas Indonesia pada 2005.
Karier profesionalnya memang sudah dimulai di bank sentral sejak 1994 silam. Pada 2017, dia menjabat sebagai Kepala Institut BI. Kemudian, pada 2023, dia menjadi Kepala Departemen Kebijakan Moneter BI. Setahun berikutnya atau di 2024 dia kemudian menjadi asisten Gubernur BI hingga saat ini.
Selama kariernya, Solikin juga memiliki keterlibatan yang luas dalam riset dan analisis kebijakan ekonomi moneter, serta kerap menjadi pembicara dalam berbagai forum akademik dan perbankan sentral, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dia juga berperan penting sebagai Editor Bulletin of Monetary Economics and Banking (BEMP) yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.
Fokus risetnya saat ini mencakup transformasi makroekonomi, kebijakan bank sentral, serta berbagai isu terdepan dalam pembangunan ekonomi.
Sejumlah karyanya telah dipublikasikan di tingkat internasional dalam bentuk buku dan artikel jurnal ilmiah, dengan indeks h-Scopus sebesar 11.
Bersama Perry Warjiyo, yang menjadi Gubernur BI saat ini, Solikin menulis sejumlah buku rujukan penting di bidang perbankan sentral, antara lain Central Bank Policy: Theory and Practice (Emerald Publishing, 2019) dan Central Bank Policy Mix: Issues, Challenges, and Policy Responses (Springer, 2022).
Karyanya yang berjudul Future Central Banking in Emerging Market Economies tercantum sebagai Reference Collection in Social Sciences oleh Elsevier (2023). Buku terbarunya, The Inclusive Welfare, dijadwalkan terbit pada tahun ini (Springer, akan terbit).
M. Anwar Bashori
M. Anwar Bashori lahir di Klaten pada 1968. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Bidang Manajemen Universitas Jenderal Soedirman pada 1989. Anwar kemudian melanjutkan Pendidikan di University Of Glasgow dan mendapatkan gelar Master di Bidang Development Economics pada tahun 1999.
Anwar memulai kariernya di BI sejak 1994. Saat ini dia menjabat sebagai Kepala Departemen Pengelolaan Uang sejak 2025. Sebelumnya, Anwar pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Sumber Daya Manusia pada periode 2022-2024 dan Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah pada periode 2016-2022.
(lav)
































