Logo Bloomberg Technoz

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada kebijakan suku bunga acuan yang diperkirakan akan tetap dipertahankan pada level 5,75%. 

Bloomberg Economics menilai, stabilnya rupiah yang bertahan di kisaran Rp17.850-Rp18.050/US$ yang terbentuk sejak Juni, serta inflasi yang relatif terjaga dalam rentang target Bank Indonesia (BI) diproyeksikan akan menjadi fondasi BI dalam mengambil langkah tersebut. 

Meski rupiah sejatinya telah melemah sepanjang tahun sebesar 6,37%, namun pada Agustus pelemahan ini terpangkas, dan rupiah menguat 0,98%. Namun, jika ditarik ke belakang, pelemahan rupiah terjadi sangat dalam pada kuartal kedua yang sebesar 4,96%, dan pada kuartal pertama melemah 1,79%. 

Pelemahan di kuartal kedua disebabkan oleh sentimen eksternal dengan kenaikan harga minyak mentah yang mencapai US$118,09/barel pada 29 April, dan terkikisnya cadangan devisa untuk intervensi stabilitas nilai tukar. Hingga Juni rupiah sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di Rp18.180/US$. 

Ruang penguatan yang mulai terbentuk sepanjang Agustus masih sangat bergantung pada pasar yang mencerna kembali risiko eksternal, terutama kenaikan harga minyak, arah dolar AS, serta ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. 

Di sisi lain, keputusan BI yang diperkirakan akan kembali mempertahankan BI-Rate di 5,75%, tidak serta-merta menjadi katalis penguatan rupiah. Pasar diperkirakan masih akan mencermati seberapa kuat BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui instrumen selain suku bunga. 

Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah hari ini diperkirakan bergerak di rentang Rp17.850-Rp17.950/US$, dengan kecenderungan melemah terbatas, dan berpotensi menguji kembali di level Rp17.900/US$. 

(riset)

No more pages