Dari pasar Asia, rupiah memang belum jadi mata uang dengan penguatan terbesar. Namun setidaknya berhasil mempertahankan momentum positif.
Won Korea Selatan memimpin dengan penguatan 0,52%. Disusul dolar Taiwan 0,4%, yen Jepang 0,2%, dan dolar Singapura juga terapresiasi 0,11%.
Sebaliknya, ringgit Malaysia melemah 0,04%, peso Filipina terpangkas 0,15%, dan baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam, 0,16%.
Penguatan rupiah hari ini juga mendapat dukungan risk-on di kawasan, bersamaan dengan meningkatkan perhatian investor pada arah kebijakan ekonomi pemerintah lewat RAPBN 2027.
Selain itu, sinyal dari pasar obligasi juga cukup konstruktif dengan turunnya yield pada hampir semua tenor.
Yield enor 2 tahun turun 10,7 basis poin menjadi 6,83% dan tenor 5 tahun turun 9,5 basis poin menjadi 7,04%. Bahkan yield SUN tenor 10 tahun turun 1,7 basis poin menjadi sekitar 7,20%.
Sebelum penyampaian Nota Keuangan, pemerintah dan DPR telah menyepakati kisaran pertumbuhan ekonomi 5,8%-6,5%, defisit fiskal 1,8%-2,4% terhadap PDB, serta asumsi rupiah Rp16.800-Rp17.500/US$.
Pasar kini lebih membutuhkan direction mengenai bagaimana seluruh kebijakan tersebut akan diorkestrasi daripada sekadar angka-angka makro.
(dsp/aji)





























