Logo Bloomberg Technoz

Contoh terbaru dari tren ini adalah supertanker Romania Prosperity: Kapal tersebut menghilang di perairan lepas pantai Fujairah di Teluk Oman pada akhir Juli, lalu muncul kembali di dekat lokasi yang sama 10 hari kemudian.

Para pengamat tidak dapat memastikan apakah kapal tersebut masih mengangkut muatan minyak mentah yang sama atau telah memindahkannya ke kapal lain dan kemudian kembali ke Teluk Persia untuk mengambil muatan baru.

Romania Prosperity sempat tidak bergerak di perairan lepas pantai Fujairah dan Sohar, tetapi dengan transponder dimatikan. (Bloomberg)

Kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC) lainnya, Alexandros, menghilang dalam keadaan kosong di Laut Merah bagian utara pada pertengahan bulan lalu, sebelum muncul kembali dengan muatan parsial di dekat India pekan lalu.

Sementara itu, supertanker Kuwait Prosperity menghilang di Teluk Persia saat membawa muatan minyak mentah pada awal Juli, lalu muncul kembali 10 hari kemudian di dekat Indonesia.

Kapal-kapal mematikan transponder mereka terutama untuk menyembunyikan lokasi dan menghindari serangan dari Iran, di mana pemilik kapal siap mengambil risiko mengangkut muatan melalui jalur-jalur sempit yang berbahaya karena keuntungannya yang besar.

Dalam beberapa pekan terakhir, perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab bahkan telah mulai mengangkut minyak Irak melalui Selat Hormuz.

Fenomena pelayaran "gelap" (tanpa sinyal pelacakan)—bersama dengan gejolak lain di pasar angkutan—"menunjukkan bahwa pasar VLCC telah beradaptasi dengan lingkungan operasi yang berbeda," ujar Maria Bertzeletou, analis pasar senior di Signal Ocean. "Pergerakan kapal tanker yang terkonfirmasi kini cenderung beralih ke arah upaya penyembunyian posisi."

Taktik mematikan transponder pada kapal tanker mengalami pasang surut seiring dengan fluktuasi ketegangan antara AS dan Iran.

Kesepakatan damai sementara yang dimulai pada Juni sempat mendorong lebih banyak kapal menyiarkan pelayaran mereka, tetapi pelayaran "gelap" kembali meningkat setelah Teheran mulai menyerang kapal-kapal lagi.

Belakangan ini, praktik tersebut semakin meluas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade terhadap pengiriman minyak Arab Saudi di Laut Merah pada pertengahan Juli.

Menurut data Signal Ocean, sekitar 62% kapal tanker minyak dan produk minyak melintasi Selat Hormuz dalam kondisi "gelap" (tanpa sinyal) antara 14 Juli—saat AS memberlakukan kembali blokade maritim terhadap Iran—hingga awal Agustus. 

Angka ini meningkat dibandingkan proporsi sekitar separuh kapal yang melakukan hal serupa sebelumnya. Data Signal Ocean tidak merinci berapa lama kapal-kapal tersebut mematikan transponder mereka.

(bbn)

No more pages