Adapun hingga semester I-2026 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45% sementara pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61%. Menurutnya, angka tersebut merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
“Ini adalah pertumbuhan ekonomi kuartal pertama dan pertumbuhan semester pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir ini,” kata Prabowo. Dengan kondisi tersebut, Prabowo optimistis ekonomi RI hingga akhir tahun dapat mencapai 6%.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga melaporkan pencapaian ekonomi Indonesia di sepanjang semester I-2026 berhasil mencatatkan realisasi investasi mencapai Rp1.010 triliun dan telah menciptakan 1,4 juta lapangan kerja.
Prabowo menyebut, pertumbuhan investasi tersebut terjadi di tengah konflik geopolitik, perang dagang, perang terbuka di Eropa, di Timur Tengah, dan berbagai tempat lain di dunia.
Pemerintah juga mencatat percepatan swasembada 8 komoditas pangan dan energi melalui implementasi B50 sejak 1 Juli 2026, sementara pemangkasan 145 aturan penyaluran pupuk menjadi satu Peraturan Presiden mendorong harga pupuk turun 20% dan laba PT Pupuk Indonesia naik 252.8% di 1H26.
Di sisi BUMN, laba meningkat hampir dua kali lipat menjadi Rp326 triliun sepanjang 2025, disertai restrukturisasi untuk meningkatkan efisiensi dan penghematan overhead.
Danantara juga terus mendorong proyek hilirisasi, sementara PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) telah mengelola devisa ekspor US$14 miliar dan melalui Bullion bank BRIS dan Pegadaian mengelola 153 ton emas senilai Rp360 triliun.
Pemerintah selanjutnya tengah mempercepat pengembangan KDMP dan Kampung Nelayan Merah Putih untuk memperkuat rantai pasok dan aktivitas ekonomi daerah.
Analis Phintraco Sekuritas menilai bahwa berbagai kebijakan tersebut berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi dan earnings emiten. “Terutama (emiten) sektor energi, komoditas, perbankan, konstruksi, dan industri dasar, seiring dengan peningkatan investasi, hilirisasi, serta aktivitas ekonomi domestik,” papar Phintraco dalam catatan terbarunya.
Namun memang, efektivitas implementasi dan realisasi proyek tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan dampaknya terhadap kinerja emiten.
(fad)



























