Yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat 4,65%, turun 4,8 bps, sementara yield obligasi RI berdenominasi dolar AS tenor 10 tahun di 5,61%. Selisih (spread) yang sebesar 96 bps masih menarik.
Dari sisi domestik, momentum turunnya yield sejalan dengan posisi pelaku pasar yang sedang mencerna penyampaian Nota Keuangan dan RAPBN 2027.
Sebelumnya pemerintah dan DPR telah menyepakati sejumlah kerangka makro RAPBN 2027, termasuk pertumbuhan ekonomi 5,8%–6,5%, defisit fiskal 1,8%–2,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB), serta asumsi nilai tukar Rp16.800–Rp17.500/US$.
Angka-angka tersebut bukan sekadar target bagi pasar obligasi. Investor akan mencermati bagaimana target tersebut diterjemahkan menjadi kebutuhan pembiayaan, penerbitan SBN, strategi pengelolaan utang, serta kredibilitas fiskal pemerintah.
Kurva Yield
Jika melihat struktur yield siang ini, maka sepertinya investor masih meminta kompensasi lebih tinggi untuk memegang SUN dengan durasi lebih panjang.
Yield tenor 1 tahun berada di 6,86%, tenor 5 tahun di 7,04%, dan tenor 10 tahun di 7,2%. Sementara, yield 20 tahun berada di 7,22%, sementara tenor 30 tahun 7,29%.
Hal ini mengindikasikan sikap pelaku pasar yang belum sepenuhnya yakin terhadap risiko fiskal, inflasi, dan pembiayaan dalam jangka panjang.
Terlebih, dalam asumsi ekonomi makro RAPBN 2027 rupiah dipatok di Rp16.800-Rp17.500/US$, masih berada cukup jauh dari posisi pasar ini yang berada di Rp17.800-an/US$.
Sebagai catatan, rupiah pada perdagangan hari ini bergerak di rentang Rp17.890/US$, lalu menguat 0,2% ke Rp17.835/US$ pada 11:41 WIB.
(dsp/aji)






























