Budi menjelaskan smelter Pomalaa memiliki kapasitas produksi sekitar 120.000 ton kandungan nikel dalam mixed hydroxide precipitate (MHP), dengan kebutuhan bijih limonit sebanyak 21 juta ton per tahun dan saprolit sejumlah 720.000 ton per tahun.
Dia menyatakan smelter Pomalaa bakal menyerap tenaga kerja sekitar 10.679 orang pada tahap konstruksi dan 3.017 orang pada tahap operasi.
Total nilai investasinya diperkirakan mencapai US$3,4 miliar, Vale bekerja sama dengan Huayou dan Ford dalam pembangunan smelter-nya.
Sementara itu, tambang di Blok Pomalaa, telah beroperasi sejak kuartal I-2026. Dengan produksi tahunan sekitar 7 juta ton bijih saprolit dan 21 juta ton bijih limonit. Saat ini, produksi dari tambang Pomalaa mencapai 2 juta ton saprolit dan 2,1 juta ton limonit.
Sebelumnya, Budi memberikan sinyal tengah membidik pasar baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) domestik, seiring dengan bakal beroperasinya smelter HPAL di Pomalaa pada kuartal III-2026.
Budi menyatakan perseroan saat ini masih fokus untuk menyelesaikan pembangunan proyek tersebut, termasuk menjajaki potensi penyerapan produk bersama mitra usaha.
Akan tetapi, dia menilai proyek tersebut dapat menjadi bagian penting dalam pembentukan ekosistem industri baterai kendaraan listrik di dalam negeri.
Terlebih, produk antara yang dihasilkan berupa MHP merupakan bahan baku awal dalam rantai pasok baterai EV.
“Terkait dengan offtaker, kita fokus untuk men-deliver project karena pada dasarnya kita berdiskusi dengan partner dan juga nanti akan kita bawa ke mana hilirisasi ini. Karena pada dasarnya pemerintah ingin melihat terbentuknya sebuah ekosistem industri [baterai EV] di dalam negeri,” kata Budiawansyah kepada awak media, medio Maret.
“Karena kita melihat rantai [pasok] EV berbasis MHP masih cukup panjang dari MHP tersebut untuk menuju ke sebuah battery packing. Jadi bagaimanapun kita berkoordinasi dengan pemerintah, bagaimana tetap mewujudkan ekosistem baterai terintegrasi yang ada di Indonesia,” tegasnya.
Adapun, pada 28 Februari 2026, Vale telah menjual bijih nikel pertama dari tambang di proyek tersebut. Perseroan menargetkan produksi 300.000 ton limonit per bulan, atau sekitar 9.677 ton per hari.
Di sisi lain, proyek smelter IGP Morowali telah memasuki progres operasional. Blok Bahodopi dengan luas 22.699 hektare dilaporkan telah mulai beroperasi sejak kuartal I-2025.
Untuk sektor tambang, konstruksi fase 1 telah mencapai 100% dan kini perusahaan berfokus pada persiapan penyelesaian fase 2 yang ditargetkan rampung pada 2027. Vale mengungkapkan pada awal 2026 telah terdapat 2,2 juta ton bijih yang terjual dari proyek tersebut.
Sementara itu, progres pembangunan pabrik HPAL hasil kemitraan dengan GEM dan EcoPro berkapasitas 66.000 ton per tahun MHP telah mencapai 36% dan ditargetkan rampung pembangunannya pada Maret 2027. Total investasi proyek ini mencapai US$2 miliar.
Di Sulawesi Selatan, Vale bersama Huayou tengah mengembangkan proyek IGP Sorowako Limonite di Blok Sorowako seluas 70.566 hektare untuk mendukung hilirisasi nikel limonit.
Pembangunan tambang per Juni 2026, telah mencapai 50%, sedangkan progres pabrik HPAL berada di angka 19%.
Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun dan ditargetkan pada Desember 2027.
(azr/wdh)
































