Logo Bloomberg Technoz

Kendati demikian, pergerakan mata uang kawasan termasuk rupiah sejatinya masih akan sangat dipengaruhi perkembangan harga minyak.

Brent yang bertahan di sekitar US$89/barel, masih menunjukkan pasar belum sepenuhnya percaya bahwa risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah akan segera berakhir. 

Apabila pembicaraan AS-Iran menghasilkan kemajuan konkret dan membuka peluang normalisasi pelayaran di Selat Hormuz, harga minyak berpotensi turun dan memberi ruang bagi rupiah untuk menguat lebih lanjut.

Sebaliknya, jika negosiasi kembali gagal mencapai kesepakatan, dapat menyebabkan kenaikan harga minyak dan memberi tekanan terhadap mata uang di kawasan Asia.

Dari dalam negeri, sentimen positif bagi rupiah diperkirakan masih bisa menopang rupiah. Pasar obligasi mulai memberi sinyal yang lebih konstruktif.

Para analis menilai, tekanan jual terhadap aset Indonesia yang terjadi kemarin dinilai sudah melewat fase terburuk, seiring pencalonan Destry Damayanti sebagai gubernur baru Bank Indonesia (BI).

Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memperkirakan yield Surat Utang Negara (SUN) bergerak konsolidatif di rentang 7,2-7,25%. Begitu juga dengan rupiah yang akan bergerak di rentang Rp 17.800-17.900/US$.

(dsp/aji)

No more pages