Hal ini pada gilirannya menurunkan jumlah transaksi yang tersedia secara publik di rute tersebut, sehingga membuat rute tersebut kurang likuid dan lebih sulit untuk menilai tolok ukur utama pendapatan kapal supertanker. Gangguan ini telah menyebabkan salah satu pedagang komoditas terkemuka di dunia menggugat Baltic Exchange, yang menerbitkan data acuan tersebut.
Pada Jumat, bursa tersebut menetapkan estimasi pendapatan pada rute Timur Tengah-ke-China—yang dikenal dalam industri sebagai TD3—sebesar US$498.000 per hari. Angka tersebut setara dengan 490 poin worldscale standar industri, sistem yang digunakan perusahaan minyak dan pemilik kapal untuk menghitung tarif. Rute ini dikhususkan bagi kapal-kapal yang memuat minyak di pelabuhan Ras Tanura, Arab Saudi.
Data transaksi menunjukkan kapal milik Sinokor disewa dengan tarif 560 poin worldscale. Namun, karena tidak ada kejelasan mengenai pelabuhan spesifik di Teluk Persia yang menjadi titik keberangkatan kapal tersebut, sulit untuk menentukan nilai tarif yang tepat dalam satuan dolar per hari.
Seminggu sebelumnya, tarif TD3 tercatat sebesar US$428.000 per hari, sedangkan tepat sebelum konflik di Iran meletus, tarifnya hanya sedikit di atas US$200.000 per hari.
"Pemilik kapal yang bersedia melakukan pemuatan di dalam wilayah Selat Hormuz memperoleh premi kelangkaan," tulis para analis Clarksons Securities, termasuk Frode Morkedal, dalam catatan.
Mereka juga mencatat bahwa pendapatan untuk kapal yang memuat muatan di Teluk Oman untuk pelayaran ke Asia lebih rendah, yakni sekitar US$147.000 per hari.
“Jumlah pemilik kapal yang bersedia tetap sedikit,” kata mereka, merujuk pada mereka yang bersedia memasuki Teluk Persia.
(bbn)






























