Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Kembali Galak, Rupiah Bisa Sulit Bergerak

Tim Riset Bloomberg Technoz
10 August 2026 08:33

Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah di pasar spot diperkirakan membuka pekan ini dengan pelemahan. Harga minyak yang kembali tinggi menjadi salah satu faktor penekan dari sisi eksternal. 

Pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) juga mengindikasikan adanya pelemahan. Mula-mula, rupiah offshore membuka perdagangan Senin (10/8/2026) dengan penguatan 0,2% ke posisi Rp17.816/US$. Namun tak lama berselang, rupiah di luar negeri berbalik arah dan melemah 0,17% ke Rp17.891/US$ pada 07:36 WIB.

Harga minyak brent sejak akhir pekan lalu terus menanjak dengan naik 1,29% ke US$83,55/barel, pada Jumat (7/8/2026). Pagi ini, kenaikan masih terjadi sebesar 0,86% ke posisi US$84,27/barel.


Sementara, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$79.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah kesepakatan Iran dan Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz terkendala, lantaran militan Houthi mengklaim telah menyerang kilang minyak Saudi di dekat Laut Merah. Risiko eskalasi kembali di Timur Tengah yang masih tinggi, membuat pasar tetap waspada.