Risiko ini juga membuat sebagian besar mata uang Asia di pasar yang sudah buka, mulai bergerak di zona merah. Won Korea Selatan tergerus 0,12%, disusul yen Jepang, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong.
Dari dalam negeri, sejumlah data fundamental domestik diperkirakan masih belum mampu menopang penguatan rupiah sepenuhnya. Pelaku pasar akan kembali mencermati data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang akan dirilis pada hari ini.
Pada bulan lalu, IKK sempat mengalami penurunan meski masih tertahan di atas level 100. IKK Indonesia sempat berada di 120,9 pada Mei, lalu turun ke 117,8 pada Juni.
Bahkan jika ditelaah lebih dalam, maka data IKK bulan lalu menangkap gambaran bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan konsumen, semakin tajam penurunan optimisme terhadap kondisi ekonomi.
Hal tersebut kemudian juga tergambar pada data ketenagakerjaan terbaru yang menunjukkan bertambahnya pengangguran dari kelompok terdidik (lulusan diploma dan sarjana), meski Tingkat Pengangguran Terbuka turun.
Capaian tersebut lantaran sebagian besar tambahan pekerjaan di Indonesia masih terkonsentrasi pada sektor-sektor bernilai tambah rendah, dan didominasi tenaga kerja berkeahlian menengah ke bawah.
Sementara dari sisi eksternal, naiknya harga minyak serta adanya perlambatan ekonomi China diperkirakan akan memengaruhi permintaan terhadap komoditas ekspor Indonesia.
Pertumbuhan kredit di China diperkirakan melambat, dengan tambahan pembiayaan sosial hanya sekitar 810 miliar yuan pada Juli, jauh di bawah 3,4 triliun yuan pada Juni. Kondisi tersebut mengindikasikan ekonomi China masih menghadapi persoalan lemahnya permintaan dan momentum pertumbuhan.
Perlambatan ekonomi dari negara tirai bambu itu sudah tercermin pada neraca dagang bulan Juli. Data neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit sebesar US$450 juta pada Juni 2026, lantaran pertumbuhan nilai ekspor relatif lebih rendah daripada impor.
Di tengah tekanan eksternal dan minimnya sentimen dan data yang bisa menopang penguatan, rupiah diperkirakan masih akan bergerak volatil dengan bias melemah di rentang Rp17.890-Rp17.950/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah masih berpotensi menguat pada perdagangan hari ini. Dengan target penguatan menuju Rp17.840/US$ sampai dengan Rp17.800/US$.
Level selanjutnya berpeluang lanjut menguat bertahap ke Rp17.770/US$ dengan tertembusnya resistance kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun dalam tren jangka menengah, atau dalam sepekan perdagangan, rupiah terkonfirmasi membentuk tren rebound. Apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka berpotensi lanjut menguat hingga Rp17.500US$.
Namun apabila bila rupiah memberikan tanda-tanda melemah nantinya, maka support terdekat dapat menuju Rp17.900/US$. Rentang gerak rupiah dalam support nantinya di antara Rp18.000/US$ sampai dengan Rp18.100/US$
(riset/aji)





























