Besarnya dampak terhadap inflasi ditentukan bukan hanya oleh tingkat kekeringan, tetapi juga oleh tingginya porsi pengeluaran rumah tangga untuk pangan. Oleh karena itu, Indonesia diperkirakan mengalami tambahan tekanan inflasi terbesar.
Dalam tiga bulan setelah puncak kekeringan akibat El Niño, inflasi inti Indonesia diproyeksikan meningkat sekitar 1,9 poin persentase, sedikit lebih tinggi dibanding Filipina (1,8 poin persentase) dan Meksiko (1,2 poin persentase). Malaysia dan Thailand juga diperkirakan mengalami kenaikan inflasi, meski dalam skala yang lebih kecil.
Risiko tersebut semakin besar setelah Badan Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA) memperkirakan peluang 81% terjadinya El Niño yang sangat kuat pada akhir tahun.
Jika intensitasnya melampaui rata-rata historis, gangguan terhadap produksi pangan dan tekanan harga diperkirakan akan semakin besar.
Analisis Bloomberg menunjukkan bahwa pada puncak El Niño, sekitar 28% tambahan lahan pertanian Filipina akan terpapar kekeringan dibandingkan kondisi normal.
Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Kolombia juga diperkirakan mengalami peningkatan paparan kekeringan hingga dua digit.
Selain mengurangi curah hujan, El Niño juga membuat pola hujan semakin tidak menentu, dengan periode kering yang lebih panjang diselingi hujan berintensitas tinggi sehingga meningkatkan risiko gagal panen.
Sejumlah indikasi mulai terlihat. Laporan Crop Monitor edisi Juli mencatat hasil panen gandum musim dingin di Amerika Serikat menurun akibat kekeringan.
Sementara itu, suhu tinggi mulai mengancam produksi gandum dan jagung di Eropa, produksi padi di Thailand tertekan akibat kekeringan dan terbatasnya pupuk, sedangkan pola monsun yang berubah-ubah menghambat penanaman di India.
Bloomberg Economics juga mengingatkan bahwa risiko tersebut dapat semakin besar apabila El Niño diperkuat oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang diperkirakan berkembang mulai Agustus hingga akhir 2026.
Paket Stimulus
Melihat potensi tersebut, pemerintah mulai menyiapkan langkah antisipasi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan penyusunan paket stimulus untuk menghadapi dampak El Niño terhadap perekonomian.
Purbaya menyebut, besaran anggaran dan rincian program masih dibahas sambil menunggu usulan dari kementerian teknis. "Pak Presiden sudah memerintahkan menyiapkan untuk program itu," kata Purbaya.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan terus memantau kebutuhan insentif, terutama bagi sektor pertanian yang menghadapi tantangan ketersediaan air selama musim kemarau.
Sejumlah daerah bahkan telah melakukan pompanisasi untuk menjaga pasokan air irigasi.
Pemerintah juga memastikan anggaran akan disiapkan sesuai kebutuhan, melengkapi paket stimulus pangan senilai Rp18,04 triliun yang telah diluncurkan pada Juni lalu sebagai upaya menjaga stabilitas pasokan, daya beli masyarakat, dan mengendalikan tekanan inflasi pangan.
-- dengan asistensi Mis Fransiska Dewi
(dsp/aji)






























