"Ruas Pipa Dusem sangat strategis bagi rangkaian Pipa Gas Trans-Sumatra—Jawa—Pagerungan yang akan menjadi satu kesatuan. Rangkaian ini akan saling membantu dalam menyuplai gas untuk PGN, PLN, dan industri lainnya," jelas Hadi.
Dari kacamata teknis, pipa Dusem memiliki keunggulan spesifik dalam menahan tekanan gas, tahan terhadap korosi, dan memiliki fleksibilitas tinggi sehingga dapat meminimalkan risiko kebocoran (zero leak) di area permukiman padat penduduk.
Dibandingkan dengan instalasi pipa logam konvensional, pengaplikasian pipa jenis ini jauh lebih efisien dari segi waktu pemasangan dan biaya investasi awal.
“Keandalan material menjadi kunci utama untuk menjamin keamanan masyarakat sekaligus mempercepat penetrasi infrastruktur jaringan gas langsung ke dapur warga,” ungkapnya.
Percepatan penggunaan pipa Dusem dalam program CNG rumah tangga diyakini akan memberikan efek pengganda yang signifikan bagi perekonomian negara dan masyarakat.
“Secara makro, negara dapat menghemat triliunan rupiah setiap tahun dari pengurangan volume impor dan pencabutan subsidi LPG secara bertahap,” jelas Hadi.
Di sisi mikro, masyarakat sebagai konsumen akhir akan mendapatkan keuntungan karena biaya bulanan untuk energi memasak menjadi jauh lebih murah, aliran gas tersedia 24 jam penuh, dan warga tidak perlu lagi repot menukar atau mengangkat tabung gas.
“Sinergi antara pemanfaatan sumber daya gas lokal dan pemilihan teknologi perpipaan yang tepat diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya kedaulatan energi di Indonesia,” ungkap Ismoyo.
Untuk diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini tengah melanjutkan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pembangunan bertahap sebanyak 115.264 sambungan rumah (SR) untuk periode 2025—2026.
Langkah ini diambil guna menekan impor LPG 3 kg yang membebani subsidi negara.
Secara jangka panjang, arah kebijakan dalam Kerangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2026—2029 membidik laju pembangunan rata-rata 350.000 SR per tahun melalui kombinasi APBN dan Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Kementerian ESDM menargetkan khusus jaringan gas yang dibiayai APBN dapat menembus angka kumulatif 1 juta SR pada 2028.
Di sisi lain, proyek pipa transmisi gas bumi Dumai–Sei Mangkei (Dusem) merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dirancang membentang sepanjang 535,4 hingga 541,8 kilometer.
Proyek ini menghubungkan Stasiun Kompresor Gas (SKG) Belawan/Sei Mangkei di Sumatra Utara hingga Fasilitas Duri/Dumai di Riau.
Pembangunan jalur pipa ini berfungsi sebagai tol energi yang mengintegrasikan jaringan distribusi gas bumi di sepanjang Pulau Sumatra.
Selain itu, proyek ini diproyeksikan untuk menyalurkan potensi pasokan gas dari temuan Blok Andaman ke kawasan industri di wilayah utara dan selatan Sumatra.
Konstruksinya dibagi menjadi dua segmen utama yang dikerjakan secara paralel, yaitu Segmen 1 (Belawan—Stasiun Labuhan Batu) dan Segmen 2 (Stasiun Labuhan Batu—Duri).
Dari sisi pendanaan, proyek vital ini dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan total pagu nilai investasi mencapai sekitar Rp6,5 triliun.
(smr/wdh)
































