Logo Bloomberg Technoz

Sementara, tenor menengah masih tinggi. Yield tenor 5 tahun naik 1,2 bps, tenor 6 tahun naik 1,7 bps, 7 tahun naik 0,7 bps, dan tenor 9 tahun naik 1,7 bps. Sementara tenor acuan 10 tahun ikut naik, meski lebih terbatas, 0,7 bps ke 7,34%. 

Sedangkan tenor panjang relatif lebih stabil. Yield tenor 12 tahun turun 0,2 bps, tenor 13 tahun turun 0,1 bps, tenor 16 tahun turun 0,2 bps, tenor 30 tahun turun 0,5 bps, sedangkan tenor 40 tahun turun 0,7 bps. 

Penurunan yield terbesar di tenor panjang terjadi pada tenor 18 tahun sebesar 4,3 bps menjadi 7,36%. Hanya tenor 15 tahun dan 20 tahun tercatat naik, masing-masing 0,3 bps dan 1,1 bps. 

Namun, perubahan yield siang ini memperlihatkan masih adanya fenomena kurva mendatar yang relatif ringan. Sebab, yield tenor pendek turun cukup tajam sementara kenaikan di tenor menengah masih relatif terbatas. 

Agaknya investor melihat risiko jangka pendek Indonesia sedikit mereda setelah rilisnya data perdagangan yang relatif membaik dengan defisit neraca dagang berkurang menjadi US$450 juta dari posisi sebelumnya US$1,61 miliar. 

Namun para pelaku pasar sepertinya tetap berhati-hati terhadap prospek ekonomi dan kebijakan fiskal dalam jangka menengah. Terlebih, Indonesia diproyeksikan akan mengalami perlambatan pada kuartal kedua tahun ini menjadi 5,1%, berdasarkan konsensus Bloomberg, dari capaian sebelumnya 5,61%. 

(dsp/aji)

No more pages