Logo Bloomberg Technoz

Ekspor CPO Semester I-2026 Melambat, BPS Soroti Dampak B50

Mis Fransiska Dewi
04 August 2026 08:50

Pekerja menurunkan buah kelapa sawit hasil panen di pabrik produksi PT Perkebunan Nusantara di Kertajaya, Banten./Bloomberg-Dadang Tri
Pekerja menurunkan buah kelapa sawit hasil panen di pabrik produksi PT Perkebunan Nusantara di Kertajaya, Banten./Bloomberg-Dadang Tri

Bloomberg Technoz, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan turunannya melambat sepanjang semester I-2026, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, mengatakan nilai ekspor CPO pada semester I-2026 tumbuh 7,32%. Angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan semester I-2025 yang sempat menembus 24,80%.

“Jika pertumbuhannya dibandingkan dengan semester I tahun 2025, maka pertumbuhan pada semester I tahun 2026 mengalami perlambatan. Jadi kalau tadinya tumbuh cepat, sekarang tumbuh di bawahnya, sama-sama tumbuh tetapi tumbuhnya mengalami perlambatan," kata Ateng dalam konferensi pers, Senin (3/8/2026).


Dalam kesempatan tersebut, Ateng juga menyoroti kebijakan mandatori biodiesel B50 yang mulai diimplementasikan pada Juli 2026. BPS menilai kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi volume ekspor produk kelapa sawit Indonesia, khususnya pada paruh kedua tahun ini.

Meski demikian, Ateng menyebut BPS tidak memberikan estimasi kuantitatif mengenai besarnya penurunan ekspor dan menekankan pentingnya pengkajian lebih lanjut berdasarkan data realisasi.