Tren bearish hari ini juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) melemah 2,88%, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) drop 2,34%. Dan juga saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) terpeleset 2%.
Senada, saham LQ45 berikut turut melemah i.a, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) drop 1,89%, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tertekan 1,42%, dan saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang turun 1,37%.
Phintraco Sekuritas memaparkan, IHSG ditutup melemah tipis di level 6.234 (0,03%) pada perdagangan Senin (3/8/2026), setelah sempat berfluktuatif, yang diduga akibat profit taking.
Rupiah justru berhasil ditutup menguat 0,06% di level Rp17.990/US$ di pasar spot berdasarkan data Bloomberg, seiring penguatan mayoritas mata uang Asia lainnya yang antara lain didorong oleh pelemahan harga minyak yang berpotensi menurunkan ekspektasi akan kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed).
“Secara teknikal, Stochastic RSI mengalami reversal di area pivot dan histogram MACD masih bertahan di area positif. Sehingga diperkirakan IHSG masih berpotensi rebound dan menguji resistance di level 6.250–6.300,” papar Phintraco menyoal IHSG.
Seraya Panin Sekuritas menyebut, IHSG ditutup di zona merah setelah menghadapi uji resistance MA–50 di level 6.243.
“Jika besok IHSG ditutup di bawah MA5 @ 6206, maka ada kemungkinan melanjutkan pelemahan menuju support 6.000–6.067,” analisis Panin.
Data ekonomi Indonesia juga turut bervariasi yang terbit pada hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada Juli 2026 Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,14% secara secara bulanan (month–to–month/mtm).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut, terdapat penurunan Indeks Harga Konsumen IHK dari yang sebelumnya 111,89 pada Juni tahun 2026 menjadi 111,73 pada Juli tahun 2026.
“Adapun (berdasarkan) kelompok pengeluaran, pendorong deflasi bulanan ini terutama pada makanan, minuman dan tembakau dengan deflasi sebesar 0,89%. Dan kelompok tersebut memberikan andil deflasi sebesar 0,26%,” kata Ateng dalam rilis BPS.
Komoditas yang dominan mendorong deflasi kelompok ini yaitu bawang merah dengan andil deflasi sebesar 0,11%, seiring dengan cabe merah dan cabe rawit dengan andil deflasi masing–masing sebesar 0,06%.
Secara tahunan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, laju inflasi pada Juli 2026 tercatat 2,88% secara tahunan (year–on–year/yoy). Artinya, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari yang sebelumnya 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026.
Angka ini lebih rendah dibanding konsensus Bloomberg yang mengestimasikan inflasi Juli 2026 akan mencapai 3,16% (yoy). Angka itu juga lebih rendah ketimbang realisasi inflasi pada Juni yang sebesar 3,34%.
Sementara itu, inflasi dalam perhitungan tahun kalender (year–to–date/ytd) tercatat sebesar 1,65%.
“Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan utamanya didorong oleh tiga kelompok, yakni kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 2,97% dan memberi andil inflasi 0,87%,” jelas Ateng mengutip rilis BPS.
Jauh dari sisi lainnya, aktivitas manufaktur Indonesia berhasil kembali menetap di zona ekspansif pada bulan Juli. Ini menyudahi fase kontraksi yang sebelumnya terjadi pada Juni.
Pada Senin pagi, S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur yang dicerminkan dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) di Indonesia berada di 50,2 untuk periode Juli. Naik dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 46,9.
PMI di atas 50 menandakan aktivitas yang mengalami ekspansi, bukan kontraksi. Sebelumnya, PMI manufaktur Tanah Air sempat mengalami kontraksi.
Pertumbuhan volume produksi seiring stabilnya pemesanan baru (new orders) pada Juli, jadi pendorong pertumbuhan positif.
Sementara itu, keyakinan terhadap prospek produksi dalam 12 bulan ke depan juga kembali menguat, dengan tingkat optimisme mencapai level tertinggi dalam enam bulan.
Pada saat yang sama, perusahaan tercatat positif menambah jumlah tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam lima bulan, biarpun kenaikannya masih relatif terbatas.
“Hasil survei Juli menunjukkan sektor manufaktur Indonesia kembali mencatat pertumbuhan volume produksi, yang sebagian didorong oleh stabilnya penerimaan pesanan baru. Perusahaan mulai melihat adanya indikasi kepercayaan pelanggan semakin membaik,” terang Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, dalam keterangan tertulis.
Namun memang, lanjut Bhatti, ekspansi yang lebih kuat masih sedikit tertahan oleh dampak berlanjut dari tingginya harga.
(fad)




























