Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah sektor saham menjadi pemberat IHSG pada perdagangan Sesi I. Saham–saham teknologi, saham kesehatan, dan saham keuangan mencatatkan penurunan paling dalam, dengan masing-masing drop mencapai 1,33%, 0,87% dan 0,51%.

Tergelincirnya IHSG merupakan efek langsung dari turunnya sejumlah saham big caps. Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Senin (3/8/2026).

  1. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menekan 8,5 poin
  2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menekan 4,43 poin
  3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menekan 4,4 poin
  4. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) menekan 2,73 poin
  5. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menekan 2,46 poin
  6. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menekan 2,33 poin
  7. PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) menekan 1,32 poin
  8. PT Astra International Tbk (ASII) menekan 1,02 poin
  9. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menekan 0,9 poin
  10. PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) menekan 0,77 poin

Adapun laju IHSG tersengat sentimen yang datang dari Badan Pusat Statistik (BPS) usai merilis data perdagangan internasional Indonesia periode Juni 2026. Sesuai dengan dugaan para ekonom dan analis sebelumnya, neraca dagang berlanjut defisit.

Pada Senin, BPS melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit sebesar US$450 juta pada Juni 2026. Resmi, neraca dagang lanjut defisit dalam dua bulan beruntun, setelah mengalami perjalanan panjang surplus pada neraca dagang nasional.

BPS memaparkan, nilai ekspor Indonesia pada Juni mencapai US$25,46 miliar. Menanjak 8,84% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year–on–year/yoy).

Menariknya, ini terbilang membaik positif dibanding bulan sebelumnya yang mengalami penurunan 5,73% yoy di posisi hanya US$23,2 miliar atau turun 5,73% (yoy).

Adapun impor Indonesia mengalami lonjakan pada Juni. BPS mengumumkan nilai impor RI pada Juni tercatat mencapai US$25,91 miliar. Melesat 34,27% dibanding periode yang sama tahun lalu (year–on–year/yoy).

Realisasi impor ini bertambah besar dibanding bulan sebelumnya yang mencapai US$24,81 miliar, setelah kenaikan 22,16% (yoy).

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia pada Juni mengalami defisit (lagi) sebesar US$450 juta.

Pada Mei bulan sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia juga mengalami defisit yang mencapai US$1,61 miliar, ini menjadi yang pertama kalinya setelah surplus selama 72 bulan berturut-turut dalam 6 tahun, tepatnya Mei 2020.

(fad/naw)

No more pages