Logo Bloomberg Technoz

Imbas masalah operasional tersebut, manajemen UNTR menurunkan nilai investasi di SERD menjadi nihil dengan kerugian nilai investasi Rp1,47 triliun.

Di sisi lain, manajemen UNTR turut mencatat kerugian penurunan nilai piutang non-usaha atau pinjaman pemegang saham ke SERD sebesar Rp1,28 triliun. Lewat laporan keuangan per Juni 2026, saldo pinjaman ke SERD menjadi nihil.

Bloomberg Technoz telah mencoba menghubungi Sekretaris Perusahaan UNTR Ari Setiyawan terkait dengan gangguan operasional di entitas bisnis panas bumi perseroan tersebut. Hanya saja, permohonan konfirmasi tidak ditanggapi sampai berita tayang.

SERD mengelola pembangkit listrik panas bumi (PLTP) Rantau Dedap dengan kapasitas 2x49 megawatt yang telah beroperasi di Lahat dan Muara Enim, Sumatra Selatan.

SERD berpeluang mengerek kapasitas setrumnya menjadi 2 x 110  MW, sesuai dengan perjanjian Power Purchase Agreement (PPA) dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

UNTR masuk ke SERD lewat kendaraan investasi  PT Energia Prima Nusantara (EPN) dan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dengan kepemilikan 40,4% saham pada 2023 lalu.

SERD merupakan entitas anak usaha PT Supreme Energy, produsen energi panas bumi di Indonesia sejak 2008 lalu, yang sahamnya juga dimiliki oleh Inpex, Sumitomo Corporation, Marubeni Corp, dan Tohoku Electric Power Co Inc.

Bisnis Inti

Selain kerugian di lini bisnis panas bumi, UNTR mencatat pendapatan merosot 15% menjadi Rp58,29 triliun pada seemster I-2026.

UNTR menjelaskan penurunan pendapatan terutama dipicu oleh lebih rendahnya penjualan emas di PT Agincourt Resources serta melemahnya kinerja segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal maupun metalurgi sebagai dampak alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah. 

Dari sisi operasional, penjualan alat berat Komatsu turun 27% menjadi 1.994 unit, terutama akibat penurunan penjualan alat berat berkapasitas besar di sektor pertambangan. Pendapatan bersih segmen alat berat juga turun 28% menjadi Rp15 triliun. 

Sementara itu, pendapatan bisnis kontraktor penambangan justru meningkat 4% menjadi Rp27,2 triliun, terutama didorong penguatan kurs dolar AS.

Di bisnis pertambangan batu bara termal dan metalurgi, pendapatan turun 4% menjadi Rp12,9 triliun, sedangkan pendapatan bisnis emas dan mineral lainnya anjlok 66% menjadi Rp2,4 triliun akibat penurunan penjualan emas sebesar 82%. 

Dari sisi neraca, total aset United Tractors meningkat menjadi Rp179,06 triliun hingga akhir Juni 2026 dari Rp177,64 triliun pada akhir 2025.

Total liabilitas naik menjadi Rp77,31 triliun dari Rp74,50 triliun, sedangkan total ekuitas turun menjadi Rp101,75 triliun dari Rp103,14 triliun.

Kas dan setara kas juga menyusut menjadi Rp18,65 triliun dari Rp26,57 triliun pada akhir tahun lalu.

Kemudian, arus kas bersih dari aktivitas operasi turun signifikan menjadi Rp2,75 triliun pada semester I-2026 dari Rp11,36 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, arus kas yang digunakan untuk aktivitas investasi meningkat menjadi Rp12,39 triliun, terutama dipengaruhi akuisisi entitas anak dan belanja aset tetap. 

Lebih lanjut, per 30 Juni 2026, UNTR juga mencatat posisi utang bersih sebesar Rp9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5%, berbalik dari posisi kas bersih Rp7,7 triliun pada akhir 2025.

UNTR menyebut, perubahan tersebut mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas serta pelaksanaan program pembelian kembali saham.

(naw)

No more pages