Meski begitu, harga sang logam mulia masih mencatatkan penguatan sekitar 0,5% pada Juli. Ini menjadi kenaikan bulanan pertama sejak Februari.
Ke depan, pasar akan mencermati arah kebijakan moneter terutama di Amerika Serikat (AS). Bulan ini, bank sentral Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 3,5-3.75%.
Namun keputusan itu tidak bulat. Ada tiga anggota Komite Pengambil Kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC) yang ingin agar Federal Funds Rate naik 25 basis poin (bps).
Rapat FOMC berikutnya akan dihelat pada pertengahan September. Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam menjadi 3,75-4% mencapai 67%.
Helen Amos, Analis di BMO Capital Markets Ltd, menilai simposium tahunan The Fed di Jackson Hole (Wyoming) akan sangat dipantau ketat oleh investor. Dalam acara tersebut, biasanya akan muncul petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Emas juga berstatus sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
(aji)































