“Untuk mencegah momentum industri [hilir nikel] jalan di tempat, pengolahan lanjutan hasil HPAL menjadi nikel sulfat, prekursor, katoda baterai, hingga kobalt elektrolitik murni perlu diprioritaskan,” ungkap Arif.
Untuk diketahui, dalam industri pertambangan, kobalt elektrolitik sebagian besar diproduksi sebagai hasil sampingan (byproduct) dari pengolahan bijih nikel maupun tembaga.
Sebagai contoh, pada teknologi HPAL yang banyak diterapkan di Indonesia, bijih nikel laterit diolah untuk mengekstraksi nikel sekaligus memisahkan kandungan kobalt yang terikat di dalamnya.
Proses pembuatannya melibatkan serangkaian tahapan hidrometalurgi hingga pemurnian secara listrik (electrowinning).
Awalnya, bijih nikel-kobalt dilarutkan menggunakan larutan asam (leaching) untuk mengekstrak logam ke dalam bentuk cairan.
Larutan ini kemudian melewati proses ekstraksi pelarut (solvent extraction) untuk memisahkan ion kobalt secara spesifik dari nikel, besi, dan pengotor lainnya.
Setelah didapatkan larutan kobalt murni, arus listrik searah dialirkan ke dalam sel elektrolit.
Ion-ion kobalt dalam larutan akan terdeposisi (mengendap) dan menempel pada lembaran katoda, sehingga menghasilkan kobalt elektrolitik berbentuk lembaran katoda padat dengan tingkat kemurnian sangat tinggi (biasanya mencapai >99,8%).
Penggunaan di Industri
Adapun, kobalt elektrolitik memiliki peran yang sangat vital dalam berbagai industri modern.
Penggunaan terbesarnya saat ini adalah sebagai bahan baku utama senyawa katoda pada baterai ion litium (seperti tipe NMC atau NCA) untuk kendaraan listrik dan perangkat elektronik, karena kemampuannya menjaga kerapatan energi dan stabilitas termal.
Selain industri baterai, logam ini digunakan untuk membuat superalloy (paduan logam yang tahan suhu ekstrem) pada komponen mesin jet pesawat dan turbin industri, magnet permanen berkinerja tinggi, bahan pelapis tahan aus, serta katalis dalam industri kimia.
"Langkah ini juga sebagai bentuk efisiensi resources. Kobalt murni ini sangat dibutuhkan oleh rantai pasok baterai kendaraan listrik global, sekaligus menjadi material komplementer penting bagi industri paduan logam aluminium bernilai tinggi," tambah Arif.
Selain menopang industri baterai ion litium, kobalt murni memiliki potensi komplementer yang kuat jika diintegrasikan dengan industri aluminium, di antaranya sebagai berikut:
1. Pembuatan High-Strength Aluminium Alloy
Penambahan persentase kecil kobalt ke dalam paduan aluminium-silikon (Al-Si) dapat meningkatkan ketahanan mekanis dan kestabilan termal material. Hasil paduan ini sangat dibutuhkan oleh industri penerbangan, otomotif tingkat lanjut, dan komponen struktural energi terbarukan.
2. Pelindung Korosi Lingkungan Ekstrem
Paduan aluminium-kobalt menghasilkan lapisan pelindung permukaan yang kuat, menjadikannya material ideal untuk infrastruktur maritim atau perkapalan.
3. Peningkatan Efisiensi Pengolahan Logam
Integrasi ekosistem hilirisasi memungkinkan kawasan industri aluminium memanfaatkan produk turunan kobalt langsung tanpa bergantung pada impor bahan baku paduan dari luar negeri.
Sebelumnya, investasi hilirisasi nikel mulai tergeser dengan ketertarikan pemodal pada sektor bauksit karena dipengaruhi oleh dinamika pasar global serta regulasi domestik, seperti ketidakpastian kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Hal ini tecermin dalam laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yang mencatat investasi pada sektor bauksit menjadi motor utama pertumbuhan investasi nasional pada kuartal II-2026 dengan mencatatkan realisasi mencapai Rp40,1 triliun.
Angka tersebut melonjak 193% dibandingkan dengan kuartal-I 2026 yang senilai Rp13,7 triliun.
Adapun, posisi sektor bauksit disusul oleh nikel yang mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp29,4 triliun, tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp4,7 triliun.
Arif sebelumnya juga sempat mengungkapkan, berdasarkan dinamika di industri domestik dan prediksi jangka menengah, terdapat penyesuaian strategi dari para pelaku industri nikel dalam 2—3 tahun ke depan.
"Investor [hilir nikel] eksisting di segmen rotary kiln electric furnace [RKEF atau pirometalurgi] cenderung menunda rencana ekspansi. Hal ini terjadi karena ketidakpastian pasokan bijih jangka panjang dan struktur biaya yang makin besar," ujar Arif saat dihubungi, Jumat (24/7/2026).
Arif menambahkan proyek-proyek nikel yang saat ini sedang berjalan diproyeksikan akan lebih berfokus pada optimasi efisiensi biaya, integrasi rantai pasok, serta restrukturisasi keuangan.
“Lanskap investasi diperkirakan bergeser ke arah proyek bernilai tambah lebih tinggi yang mampu menyerap kenaikan biaya produksi domestik,” tambahnya.
(smr/wdh)





























