Logo Bloomberg Technoz

“Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras karena sekarang giliran kami untuk menyerang mereka,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu (29/7). “Mereka tahu apa yang akan datang. Mereka meminta kami untuk tidak melakukannya.”

Kembali pecahnya pertempuran ini terjadi hanya beberapa jam setelah Trump mengklaim bahwa Washington dan Teheran mencatat kemajuan dalam diskusi, serta menyatakan lebih memilih kesepakatan dengan Iran ketimbang memerintahkan serangan lanjutan. Namun, Trump mengubah nada bicaranya menjadi sangat berapi-api pada Rabu pagi setelah serangan semalam oleh Iran, dengan memberi tahu seorang wartawan Fox News via telepon bahwa ia berniat membalas “dengan keras.”

Alih-alih mereda, perang dengan Iran justru tampak makin meluas.

AS dan Arab Saudi telah melancarkan serangan terhadap kelompok yang disokong Iran di Irak pada hari Selasa, setelah Riyadh menyatakan berhasil mematahkan serangan drone yang diluncurkan kelompok-kelompok Irak ke arah fasilitas minyaknya. Selain itu, milisi Houthi yang disokong Iran di Yaman juga kembali menyerang kapal-kapal di Laut Merah.

Pada hari Rabu, kebakaran terjadi di dua kapal tanker gas alam cair (LNG) di Pelabuhan Damietta, Mesir. Sebuah perusahaan keamanan maritim menyatakan kedua kapal tersebut telah dihantam oleh drone.

Harga minyak yang sempat melandai selama masa jeda singkat kembali melonjak pada Kamis pagi setelah ancaman yang dilontarkan Trump.

Respons terbaru AS berpotensi menggagalkan berbagai upaya untuk mencegah meluasnya konflik di Timur Tengah, sekaligus menunjukkan bahwa kedua pihak masih siap menggunakan kekuatan militer. Trump berulang kali menyatakan AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan, meskipun Teheran membantah sedang melakukan perundingan aktif dengan Washington.

Konflik yang berkepanjangan juga membawa risiko politik bagi Trump. Partai Republik menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan kendali atas Kongres dalam pemilu sela pada November mendatang. Hasil pemilu tersebut diperkirakan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, sementara para pemilih memberikan penilaian yang kurang baik terhadap penanganan ekonomi oleh Trump.

Perang tersebut turut memicu kenaikan tajam harga bahan bakar setelah pelayaran melalui Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia—praktis terhenti. Hingga kini, selat tersebut masih sebagian besar tertutup dengan sangat sedikit kapal yang melintas.

Sementara itu, Centcom sebelumnya pada Rabu menegaskan bahwa pasukan AS "terus menegakkan secara ketat blokade AS terhadap Iran."

(bbn)

No more pages