China Kian Dekat Wujudkan Matahari Buatan, Apa Beda dengan PLTN?
Muhammad Fikri
28 July 2026 14:15

Bloomberg Technoz, Jakarta - China kembali menjadi sorotan dalam pengembangan teknologi nuklir setelah proyek reaktor fusi atau yang dijuluki "artificial sun" (matahari buatan) mencatat kemajuan menuju target pembangkitan listrik pada 2030.
Menurut Chinese Academy of Sciences (CAS), Selasa (28/7/2026), dua komponen utama berupa magnet superkonduktor untuk proyek Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak (BEST) telah menyelesaikan pengujian penuh (full-load testing).
Pencapaian ini menjadi salah satu tahapan penting sebelum fasilitas tersebut dirampungkan pada 2027 dan dilanjutkan ke fase demonstrasi pembangkitan listrik sekitar 2030.
Reaktor tersebut berbeda dengan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang saat ini digunakan di banyak negara. PLTN konvensional memanfaatkan reaksi fisi, yaitu membelah inti atom uranium untuk menghasilkan panas yang kemudian diubah menjadi listrik.
Sementara itu, proyek yang dikembangkan China menggunakan reaksi fusi, yakni menggabungkan inti atom hidrogen sehingga menghasilkan energi dalam jumlah besar. Proses ini merupakan mekanisme yang sama seperti yang terjadi di inti Matahari, sehingga teknologi tersebut dikenal sebagai "matahari buatan".




























