Rajeev De Mello, Portfolio Manager Gama Asset Management. Menurutnya, investor akan lebih mencermati apakah transisi kepemimpinan ini akan mengurangi independensi BI.
"Isu utamanya bukan pada sosok individu, melainkan institusinya. Apakah pergantian kepemimpinan akan membuat pemerintah memiliki tekanan yang lebih besar terhadap Bank Indonesia untuk mendukung agenda pertumbuhan ekonomi," ujar De Mello, seperti dikutip Bloomberg News.
Sementara itu, Senior Economist Oversea-Chinese Banking Corp. (OCBC) Lavanya Venkateswaran melihat arah pasar kini bergantung pada status penunjukan Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas Gubernur BI.
Menurutnya, apabila Destry ditetapkan sebagai gubernur definitif, pasar kemungkinan akan merespons positif karena kesinambungan kebijakan tetap terjaga.
Sebaliknya, jika penunjukan tersebut hanya bersifat sementara, ketidakpastian akan terus membayangi hingga pemerintah mengumumkan pengganti permanen.
Meski demikian, OCBC tetap mempertahankan proyeksi bahwa BI masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga pada 2026, mengingat ketidakpastian eksternal, risiko kebijakan domestik, serta volatilitas harga minyak global yang masih tinggi.
Hal senada juga disampaikan Head of Asia Strategy Skandinaviska Enskilda Banken (SEB), Eugenia Victorino. Ia menilai sentimen investor terhadap aset Indonesia akan tetap berhati-hati sampai pasar memperoleh kepastian bahwa gubernur BI berikutnya benar-benar independen.
"Sentimen akan tetap berhati-hati hingga jelas bahwa gubernur berikutnya akan independen," ujarnya, seperti dikutip Bloomberg News.
Di sisi lain, Senior Asia-Pacific Market Strategist BNY, Wee Khoon Chong, menilai penunjukan Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas memberikan stabilitas jangka pendek.
Namun, ia memperkirakan rupiah masih akan berada dalam tekanan sampai pasar memperoleh kejelasan mengenai arah kebijakan dan figur gubernur definitif.
Senada, Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg Economics, menilai perhatian pasar bukan semata tertuju pada siapa pengganti Perry, melainkan apakah transisi kepemimpinan akan mengubah karakter kebijakan moneter BI.
Menurutnya, risiko terbesar dalam jangka pendek adalah munculnya persepsi bahwa BI akan menjadi kurang independen dan lebih akomodatif terhadap pembiayaan pemerintah.
"Kekhawatiran utama dalam jangka pendek adalah bahwa pergantian kepemimpinan di bank sentral dapat mengarah pada kebijakan moneter yang kurang prudent atau kurang bertanggung jawab, misalnya melalui pembelian rutin obligasi pemerintah di pasar perdana," kata Henderson.
Kesamaan pandangan para analis asing tersebut menunjukkan bahwa perhatian investor global saat ini tidak tertuju pada siapa yang akan memimpin BI, melainkan bagaimana independensi bank sentral dipertahankan.
Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian rezim moneter global, kredibilitas institusi menjadi modal utama untuk menjaga kepercayaan investor. Bagi pelaku pasar, kesinambungan kebijakan moneter sering kali lebih penting daripada pergantian figur di kursi gubernur itu sendiri.
(dsp/aji)



























