Logo Bloomberg Technoz

Potensi Perbedaan Sikap

Semakin banyak pejabat The Fed yang mulai mengemukakan alasan mengapa mereka mendukung kenaikan suku bunga saat ini atau dalam waktu dekat.

Gubernur The Fed Lorie Logan awal bulan ini menyerukan kenaikan suku bunga secara moderat karena menilai inflasi belum bergerak secara berkelanjutan menuju target 2%. Gubernur The Fed Cleveland Beth Hammack juga menyampaikan pandangan serupa dengan mengatakan bahwa "tidak ada konflik" antara mandat The Fed dan saat ini inflasi merupakan perhatian yang lebih besar dibandingkan pasar tenaga kerja. Keduanya memiliki hak suara dalam rapat pekan ini dan berpotensi menyampaikan dissenting opinion apabila suku bunga diputuskan tetap.

"Jika mendengarkan pernyataan para pejabat The Fed, terlihat ada kelompok kecil seperti Logan dan Hammack yang tampaknya sudah siap untuk mulai menaikkan suku bunga," kata Claudia Sahm, Chief Economist New Century Advisors LLC. "Sementara kelompok yang lebih besar masih ingin melihat perbaikan lebih lanjut, dan dalam waktu dekat."

Bahkan pada rapat bulan lalu, ketika The Fed mempertahankan suku bunga untuk keempat kalinya secara berturut-turut, beberapa pejabat sudah melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga. Risalah rapat tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat membahas berbagai skenario di mana inflasi tetap tinggi akibat permintaan terkait AI, konflik di Timur Tengah, maupun dampak tarif impor. Hampir seluruh pejabat dalam kelompok itu menilai skenario tersebut kemungkinan memerlukan suku bunga yang lebih tinggi.

Sejak rapat tersebut, pemerintahan Trump mengumumkan tarif baru terhadap Kanada dan sejumlah mitra dagang lainnya, gencatan senjata yang rapuh antara Iran dan Amerika Serikat kembali runtuh, sementara investasi besar-besaran di sektor AI terus menunjukkan laju yang kuat.

Gubernur The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen bank sentral untuk menurunkan inflasi. Dalam kesaksiannya di Capitol Hill bulan ini, ia berjanji akan menggunakan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk menjaga stabilitas harga. Namun, keengganannya memberikan rincian mengenai langkah yang akan ditempuh membuat pasar masih menebak arah kebijakan suku bunga, bahkan untuk jangka pendek.

Hingga penutupan perdagangan pekan lalu, kontrak federal funds futures menunjukkan investor memperkirakan peluang sekitar 35% bagi kenaikan suku bunga pada rapat kali ini. Peluang tersebut sempat turun menjadi sekitar 10% setelah data Kementerian Tenaga Kerja AS pada 14 Juli menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) turun pada Juni untuk pertama kalinya dalam enam tahun seiring penurunan harga bensin. Namun, ekspektasi itu kembali meningkat setelah konflik dengan Iran kembali memanas.

"Sekitar sepertiga bank yang bekerja sama dengan kami kini mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut, sementara sisanya melakukan lindung nilai terhadap kemungkinan penurunan suku bunga," kata Pradeep Bhatia, Chief Executive Officer Derivative Path Inc, perusahaan yang membantu lembaga keuangan melakukan lindung nilai terhadap risiko suku bunga dan nilai tukar. "Perbedaan pandangan seperti ini menunjukkan pasar tidak lagi berusaha menebak keputusan The Fed, tetapi mulai bersiap menghadapi kedua kemungkinan tersebut."

Naik Sekarang atau Nanti

Veronica Clark, ekonom Citigroup Inc, menilai para pejabat The Fed kemungkinan masih nyaman mempertahankan suku bunga setelah data inflasi Juni yang lebih rendah. Menurutnya, apabila laporan data berikutnya menunjukkan dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi terbatas dan tingkat pengangguran meningkat, para pembuat kebijakan dapat memilih mempertahankan suku bunga lebih lama atau bahkan mulai memangkasnya.

Sejumlah pejabat memang menyatakan bahwa The Fed masih dapat bersabar untuk saat ini. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam beberapa pertemuan mendatang apabila tekanan inflasi tidak mereda.

"Dalam skenario di mana inflasi aktual tidak mulai melambat dalam waktu dekat, saya percaya sudah semestinya kita kembali mempertimbangkan sikap kebijakan moneter saat ini," ujar Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson, dua hari setelah data IHK dirilis.

Menurut Joseph Lavorgna, Chief Economist Americas SMBC Nikko Securities America sekaligus mantan pejabat Departemen Keuangan AS pada masa pemerintahan kedua Donald Trump, menaikkan suku bunga bulan ini dapat membantu Warsh membangun kredibilitas dalam memerangi inflasi dan dinilai lebih netral secara politik dibandingkan jika keputusan tersebut diambil menjelang pemilu sela Kongres pada November.

Trump sebelumnya mengkritik mantan Gubernur The Fed Jerome Powell setelah bank sentral memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin pada September 2024, hanya beberapa pekan sebelum pemilihan presiden. Saat itu Trump menyebut langkah tersebut sebagai "langkah politik" untuk membantu rivalnya dalam pemilu, Kamala Harris.

"Kalau dilakukan September atau, jangan sampai Oktober, kenaikan suku bunga pertama tepat sebelum pemilu sela, bagaimana kesannya? Lebih baik dilakukan sekarang," ujar Lavorgna.

Harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel. (Sumber: Bloomberg)

Lavorgna menambahkan, Warsh mungkin dapat meredam kritik Trump dengan menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga justru bertujuan menjaga agar suku bunga pasar jangka panjang tetap terkendali melalui pengendalian ekspektasi inflasi.

Apa pun keputusan yang diambil, konferensi pers Warsh setelah rapat akan menjadi sorotan karena diharapkan memberikan petunjuk mengenai bagaimana dirinya dan para pejabat lain memandang perkembangan ekonomi ke depan.

"Saya rasa itulah hal terpenting yang perlu kita cermati dalam beberapa rapat mendatang, yakni di mana posisi mayoritas anggota komite terkait apakah kenaikan suku bunga masih diperlukan atau tidak," kata Matthew Luzzetti, Chief US Economist Deutsche Bank Securities Inc.

(bbn)

No more pages