Logo Bloomberg Technoz

Bisa Naik

Lebih lanjut, Syafrudin memandang harga Pertamax justru bisa naik ke level Rp17.500 hingga Rp18.500 per liter, jika harga minyak mentah menetap di level US$100/barel dalam jangka menengah.

Dia menilai pemerintah dan PT Pertamina (Persero) tetap dapat menahan kenaikan melalui pengurangan margin atau pengaturan waktu penyesuaian, namun kebijakan tersebut dinilai hanya memindahkan tekanan ke arus kas Pertamina.

“Titik tengah yang cukup realistis berada di kisaran Rp18.000/liter, atau sekitar Rp1.750 lebih tinggi daripada harga Jakarta saat ini [di level Rp16.250/liter],” tegasnya.

Adapun, Syafruddin menjelaskan formula harga BBM nonsubsidi mengacu rata-rata harga BBM di pasar Singapura (MOPS), rata-rata kurs rupiah selama periode evaluasi, biaya penyimpanan dan distribusi, margin badan usaha, dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor.

Sekadar informasi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan harga BBM nonsubsidi bisa saja turun jika harga minyak dunia melandai.

Bahlil bahkan mengaku sudah menginstruksikan Pertamina dan badan usaha (BU) hilir migas swasta untuk segera menyesuaikan harga BBM nonsubsidi.

“Bahkan ada berpotensi untuk beberapa jenis BBM yang ketika harga dunia akan turun, kita sudah mulai meminta kepada pengusaha badan usaha swasta termasuk Pertamina untuk segera melakukan penyesuaian,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (20/7/2026) malam.

Dia menyatakan sudah melakukan kajian ihwal potensi penyesuaian harga BBM dan bakal melakukan rapat dengan Pertamina dan BU swasta.

Kendati begitu, dia juga mencermati volatilitas harga minyak mentah dunia. Bahlil menyatakan harga minyak bisa turun cukup dalam dalam waktu cepat, dan kembali naik ke level yang tinggi.

Untuk itu, Bahlil menyatakan bakal mencari formulasi yang bijak, yakni tidak memberatkan masyarakat yang menggunakan BBM nonsubsidi dan tidak memberatkan BU hilir migas.

Sekadar informasi, harga minyak telah menguat bulan ini karena permusuhan antara AS dan Iran meningkat di Teluk Persia, menghambat lalu lintas melalui Selat Hormuz dan memperlambat aliran minyak mentah dan gas alam cair.

Harga minyak mentah acuan Brent untuk pengiriman September turun menjadi US$96,68 per barel pada pukul 17:25 waktu Singapura, setelah melonjak 7% menjadi di atas US$100/barel pada sesi sebelumnya. 

Adapun, harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September turun 3,5% menjadi US$88,93/barel.

(azr/wdh)

No more pages