KLBF Terpukul Depresiasi Rupiah, Ada Opsi Naikkan Harga Produk
Merinda Faradianti
11 September 2026 14:05

Bloomberg Technoz, Jakarta - Emiten farmasi, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mengakui adanya tekanan terhadap margin seiring depresiasi nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan baku impor. Hal itu berdampak pada biaya produksi perseroan, lantaran sebagian besar bahan baku masih didatangkan dari luar negeri.
Chief Financial Officer (CFO) dan Direktur Keuangan KLBF Kartika Setiabudi mengatakan, tekanan terhadap biaya bahan baku menjadi salah satu kendala yang dihadapi perseroan di sepanjang tahun 2026.
“Salah satu kendala yang kami hadapi adalah tekanan terhadap margin khususnya di level gross profit yang memang sebagian besar dikontribusikan dari bahan baku. Sebagian besar bahan baku kami memang masih harus diimpor karena ketersediaan secara lokal masih sangat terbatas,” kata Kartika, Jumat (11/9/2026).
Ia melanjutkan, tekanan tersebut juga diperburuk oleh kondisi geopolitik global di Timur Tengah yang berdampak pada sejumlah harga bahan baku, khususnya yang berkaitan dengan crude oil. Di saat yang bersamaan, tekanan nilai tukar rupiah turut meningkatkan beban bahan baku impor.
“Situasi geopolitik di Timur Tengah yang sangat berdampak terhadap beberapa harga bahan baku kami khususnya yang terkait dengan crude oil. Selain itu, tentunya kita melihat adanya tekanan yang berkepanjangan terhadap nilai tukar rupiah. Kedua hal ini memang sangat mempengaruhi gross profit kami sehingga timbul tekanan terhadap margin,” tambahnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Kalbe mempertimbangkan kenaikan harga produk secara terbatas. Meski begitu, langkah tersebut dilakukan dengan hati-hati karena daya beli masyarakat masih cenderung lemah.
“Beberapa strategi yang kami lakukan sejauh ini adalah melihat kemungkinan dilakukannya kenaikan harga. Walaupun secara terbatas, karena kita juga menyadari kondisi market saat ini secara daya beli memang cenderung masih lemah,” jelasnya.
Selain penyesuaian harga, perseroan juga akan melakukan pengelolaan portofolio untuk mengoptimalkan kontribusi produk dengan margin yang lebih baik.
“Kita akan melakukan beberapa strategi kenaikan harga dan juga kita akan melakukan secara portfolio management supaya kita bisa mengoptimalkan kontribusi produk-produk yang memiliki margin lebih baik,” sebut Kartika.
Dalam jangka panjang, Kalbe juga mulai memperkuat strategi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Strategi tersebut telah dilakukan secara berkelanjutan di sektor obat resep, meski sumber bahan baku lokal masih terbatas.
Di segmen medical device atau alat kesehatan, perseroan juga mulai meningkatkan kandungan dalam negeri melalui sejumlah proyek, khususnya untuk medical equipment.
Kalbe juga secara bertahap melakukan investasi untuk produksi bahan baku. Kartika mengungkap sejumlah produk biologis kini telah diproduksi secara lokal.
“Saat ini untuk beberapa produk seperti misalnya produk-produk biologis itu sudah kita lakukan produksi secara lokal,” pungkasnya.
Selain itu, Kalbe membentuk joint venture dengan salah satu perusahaan asal China untuk memproduksi sejumlah bahan baku obat. Dalam kerja sama tersebut, Kalbe menjadi partner minoritas, dengan produksi bahan baku saat ini ditujukan untuk pasar ekspor.
































