Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Naik & Inflasi AS Panas, Bursa Asia Bersiap Melemah

News
11 September 2026 07:15

Bursa Asia. (Dok: Bloomberg)
Bursa Asia. (Dok: Bloomberg)

Toby Alder - Bloomberg News

Bloomberg, Bursa saham dan obligasi Asia diperkirakan melemah setelah lonjakan harga minyak memicu aksi jual di pasar AS, sementara data inflasi terbaru memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan segera menaikkan suku bunga.

Minyak mentah Brent melonjak di atas US$107 per barel pada Kamis (10/9), mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun dan mengangkat dolar AS ke level tertinggi dalam sepekan. Obligasi juga berada di bawah tekanan setelah Departemen Keuangan AS membeli kembali utang senilai US$5,19 miliar, lebih rendah dari yang diantisipasi investor. Laporan inflasi produsen yang lebih tinggi dari perkiraan juga mendorong pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed pekan depan.


Kontrak berjangka indeks saham Jepang, Korea Selatan, dan Australia seluruhnya mengarah lebih rendah pada pembukaan perdagangan. Kontrak indeks saham AS bergerak tipis pada awal perdagangan Asia setelah S&P 500 turun untuk hari keempat berturut-turut, menjadi rentetan penurunan terpanjang sejak Juni. Saham Oracle Corp naik sekitar 6% dalam perdagangan setelah jam reguler setelah melaporkan pertumbuhan bisnis komputasi awan yang melampaui perkiraan.

Laporan indeks harga konsumen (IHK) AS yang akan dirilis Jumat kini menjadi ujian penting bagi pasar. Investor mencari tanda-tanda apakah kenaikan biaya energi mulai mendorong tekanan harga yang lebih luas. Data yang lebih rendah dari perkiraan dapat meredakan kenaikan imbal hasil dan ekspektasi kenaikan suku bunga yang membebani saham, sementara kejutan kenaikan lainnya berisiko memperpanjang aksi jual.