Berdasarkan jajak pendapat Quinnipiac yang dirilis bulan lalu, sekitar 60% warga Amerika menilai perang melawan Iran tidak sepadan dengan dampak yang ditimbulkan. Sementara itu, hanya 34% responden yang menganggap aksi militer tersebut layak dilakukan.
Meski demikian, DPR pada Rabu tetap menyetujui kelanjutan pembahasan rancangan anggaran senilai US$95 miliar, yang sebagian besar ditujukan untuk mendanai operasi perang tersebut.
Di Senat, usulan prosedural untuk membuka jalan menuju pemungutan suara final atas resolusi terpisah yang juga bertujuan mengakhiri konflik gagal lolos setelah ditolak dengan hasil 49 berbanding 47. Senator Partai Republik dari Maine, Susan Collins, yang akan kembali maju dalam pemilu di negara bagian yang telah tiga kali dimenangkan Partai Demokrat atas Trump, memilih mendukung Demokrat. Sementara Senator Demokrat dari Pennsylvania, John Fetterman, justru memberikan suara bersama Partai Republik.
Sebelumnya, Senat pada Juni sempat meloloskan resolusi serupa dengan hasil 50 berbanding 48. Namun, Trump kemudian mendatangi Gedung Capitol untuk mengecam anggota Partai Republik atas hasil tersebut. Sehari setelahnya, para senator kembali menggelar pemungutan suara dan akhirnya menolak seruan untuk mengakhiri aksi militer Amerika Serikat.
Rangkaian pemungutan suara di Kongres sejauh ini belum mampu menghentikan Trump untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.
Trump juga terus mengecilkan peluang dimulainya kembali perundingan diplomatik dengan Iran. Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman kini mulai mengancam jalur pelayaran di Laut Merah, yang menjadi alternatif pengiriman setelah Selat Hormuz sebagian besar ditutup akibat aksi balasan Teheran sejak perang pecah pada 28 Februari.
(bbn)






























