Lebih lanjut, Djoko menjelaskan LNG untuk pasar domestik sebesar 12% dari total produksi dapat diserap oleh PT Perusahaan Listrik Nasioanl (PLN) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.
Ihwal 8% gas yang dialokasikan untuk cadangan, Djoko menyatakan nantinya bakal dimanfaatkan pemerintah untuk program masifikasi gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG).
"Ya, untuk gas alhamdulillah ini juga akan kita akan menggunakan ini nanti untuk CNG juga karena kita akan menggantikan LPG dengan CNG,” ujar Djoko.
Harga Gas
Djoko menjelaskan harga LNG dari Blok North Hub disetujui sekitar rata-rata 12,5% dikalikan harga minyak dunia. Sedangkan gas pipa memiliki formula harga tersendiri dan disesuaikan untuk masing-masing industri.
“Jadi ada floor price plus harga daripada produk. Kalau itu pupuk, itu harganya harga jual pupuk, kalau metanol harga jual metanol, kemudian kalau amoniak harga jual amoniak. Itu untuk gas pipanya, jadi ada floor price plus formula,” tegasnya.
Adapun, pembangunan floating production, storage and offloading (FPSO) North Hub, yang bakal digunakan Lapangan Geng North dan Lapangan Gehem garapan raksasa migas Italia, Eni SpA, resmi dimulai pada hari ini di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026).
Pembangunan tersebut resmi dimulai dengan dilakukannya pemotongan baja pertama FPSO dengan nama Bahtera Haluan Lestari (BHL).
CEO Searah North Ganal Limited Mirko Araldi menjelaskan North Hub merupakan proyek strategis nasional (PSN) yang mencakup wilayah kerja (WK) North Ganal, WK Rapak, dan WK Ganal, dengan target mulai berproduksi (first gas) pada kuartal IV-2028.
Araldi mengklaim FPSO Bahtera Haluan Lestari merupakan proyek terbesar di Indonesia, sekaligus terbesar di Asia Tenggara.
FPSO tersebut diperkirakan memiliki bobot sekitar 145.800 ton dan beroperasi pada proyek laut dalam atau ultra deepwater dengan kedalaman lebih dari 2.000 meter di bawah permukaan laut.
“FPSO Kutai North merepresentasikan sebuah proyek dengan skala dan ambisi yang luar biasa. Dengan panjang 350 meter, lebar 64 meter, dan tinggi 32 meter, unit ini akan menjadi salah satu FPSO terbesar yang pernah dibangun di seluruh dunia. Setelah selesai, ini akan menjadi FPSO terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara,” kata Araldi dalam peresmian proyek tersebut di Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026).
Berdasarkan data yang ditampilkan, total nilai investasi Kutei North Hub mencapai US$11,8 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar US$2,9 miliar dialokasikan untuk pembangunan FPSO Bahtera Haluan Lestari.
Proyek tersebut diperkirakan menghasilkan pasokan gas hingga 1 miliar kaki kubik standar gas per hari (bscfd) dan kondensat sebesar 80.000 barel per hari (bph).
Oroyek tersebut mencakup pengeboran 16 sumur produksi di kedalaman 1.700—2.000 meter, yang akan terhubung ke FPSO baru dengan kapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90.000 barel kondensat per hari.
Proyek tersebut juga akan menjadi bagian dari aset yang akan digabungkan dalam kerja sama bisnis antara Eni dan perusahaan energi Malaysia, Petronas.
Langkah itu dilakukan dalam membentuk perusahaan baru bernama Searah yang ditargetkan memiliki produksi lebih dari 500.000 barel setara minyak per hari pada 2029.
(azr/ros)






























