Chief Executive Officer Justin Hotard sedang berupaya melakukan diversifikasi bisnis non peralatan jaringan telekomunikasi lama Nokia untuk memanfaatkan booming pembangunan pusat data yang didorong oleh kecerdasan buatan.
Hotard mengumumkan perubahan strateginya tersebut tahun lalu bersamaan dengan rencana untuk merestrukturisasi operasi perusahaan dan melepas unit-unit yang kinerjanya kurang memuaskan, serta menjanjikan pertumbuhan laba operasional dua digit dalam beberapa tahun mendatang. Saham perusahaan ini telah naik 66% sepanjang tahun ini.
Meskipun booming kecerdasan buatan (AI) telah membuka peluang baru, lonjakan pembangunan pusat data baru dan peningkatan sumber daya komputasi telah menyebabkan kelangkaan komponen kunci—termasuk chip memori—serta kenaikan harga.
Pesaingnya, Ericsson AB, memperingatkan pekan lalu bahwa kenaikan biaya akan menekan margin laba, sehingga pemenuhan pesanan baru dari pelanggannya menjadi lebih mahal.
Nokia mengatakan telah menyetujui untuk membeli kompleks pabrik chip di Chandler, Arizona, dari perusahaan Belanda NXP Semiconductors NV, dengan syarat mendapat persetujuan dari pihak berwenang.
Nokia akan memulai dengan menyewa sebagian kapasitas mulai awal 2027 sebelum mengubah fungsi fasilitas tersebut untuk memproduksi komponen optik bagi chip yang digunakan di pusat data AI.
Nokia diketahui telah memperluas jejak manufakturnya di AS selama beberapa tahun terakhir, dengan fokus pada komponen telekomunikasi dan semikonduktor bernilai tinggi. Strategi ini telah membantu perusahaan memperoleh pendanaan federal berdasarkan Undang-Undang Chips AS sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasokannya.
Nokia juga tengah mengambil langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) di Eropa sebagai bagian dari restrukturisasi yang lebih luas untuk menghemat biaya hingga €1,2 miliar tahun ini. Pemutusan hubungan kerja di Eropa tersebut akan menimbulkan biaya restrukturisasi sebesar €200 juta, demikian menurut perusahaan.
(bbn)






























