Pengiriman spot tersebut menelan biaya sekitar dua kali lipat dari yang seharusnya dibayarkan kedua negara untuk pasokan jangka panjang dari Qatar. Produsen Teluk Persia tersebut telah menunda rencana untuk memulihkan produksi setelah peningkatan ketegangan baru-baru ini di sekitar Selat Hormuz.
Meski pembelian darurat dapat membantu mencegah kekurangan listrik yang lebih parah dalam jangka pendek, harga yang tinggi ini membebani keuangan pemerintah dan menambah tekanan pada kedua negara untuk menaikkan tarif listrik dan gas. Krisis ini juga mempercepat upaya untuk mengurangi ketergantungan pada LNG impor.
Bangladesh bergerak lebih cepat untuk memperluas energi terbarukan, karena para pembuat kebijakan di seluruh wilayah mengevaluasi kembali risiko ketergantungan pada energi Timur Tengah. Otoritas di Dhaka meluncurkan paket kebijakan bulan lalu untuk meningkatkan energi terbarukan, termasuk pembebasan pajak bagi sektor tenaga surya hingga tahun 2035, menurut PV Magazine.
Negara ini sudah mulai membeli lebih banyak teknologi tersebut, dengan impor panel surya dan sel surya dari China yang terus meningkat. Meski volumenya masih relatif kecil, pengiriman dari produsen terbesar di dunia tersebut naik 40% pada paruh pertama tahun 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Bangladesh juga mendesak organisasi nonpemerintah untuk membantu mempercepat investasi di sektor tenaga surya, dengan target mencapai kapasitas terpasang sebesar 10 gigawatt pada tahun 2030, menurut laporan dari Bdsnews24.com yang berbasis di Bangladesh, mengutip Menteri Energi Iqbal Hassan Mahmood dalam konferensi pada Senin. Bangladesh memiliki kapasitas terpasang tenaga surya sekitar 1,7 gigawatt per tahun 2024, menurut BloombergNEF.
Sementara itu, Pakistan semakin bergantung pada energi nuklir, batu bara, dan energi terbarukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh LNG. Pembangkit listrik tenaga nuklir melonjak 30% pada Juni dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu, sedangkan pembangkit listrik tenaga batu bara meningkat 5%, menurut data yang dikumpulkan oleh Optimus.
(bbn)






























