Kenaikan tersebut didorong oleh ekspektasi pasar bahwa pengurangan kuota bijih nikel Indonesia akan memperketat pasokan bijih dan meningkatkan harga bahan baku bagi fasilitas pemurnian dan pengolahan nikel.
Pada saat yang sama, BMI mencatat kekhawatiran terhadap produksi smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) di Indonesia meningkat, akibat terbatasnya pasokan sulfur sehingga makin memperkuat sentimen kenaikan harga nikel.
Adapun, Indef Green Transition Initiative (GTI) juga memprediksi kondisi kelebihan pasok atau oversupply nikel dunia tidak akan membaik secara signifikan usai Indonesia memastikan tidak akan merevisi kuota produksi dalam RKAB 2026 secara besar-besaran.
Head of Industrial and Transport Decarbonization Indef GTI Andry Satrio Nugroho menyatakan klaim pemangkasan RKAB yang dapat memotong 30% pasokan bijih dunia rupanya hanya bakal mengurangi pasokan nikel primer global sebesar 4%.
Andry memprediksi pasokan nikel global bakal berkurang gegara kebijakan tersebut dari 3,88 juta ton pada 2025 menjadi 3,71 juta ton pada 2026.
Dengan begitu, defisit pasokan yang tercipta hanya 32.000 ton atau 0,85% dari konsumsi dunia.
Kendati begitu, Andy menegaskan kondisi tersebut harus dibandingkan dengan stok atau inventori bursa logam global yakni London Metal Excange (LME) dan Shanghai Futures Exchange (SHFE).
Andry mencatat gabungan inventori logam nikel di LME dan SHFE mencapai sekitar 468.000 ton pada pertengahan 2026, sekitar 6,5 pekan konsumsi global sebanyak 72.058 ton per pekan.
Lalu, kondisi tersebut lebih besar 14,6 kali dibandingkan dengan defisit tahunan.
“Pada laju defisit sekarang, dibutuhkan hampir 15 tahun untuk menguras stok tersebut. Selama persediaan yang bisa diserahkan ke bursa sebesar itu masih ada, tidak ada pembeli yang perlu membayar premi untuk logam segera,” kata Andry ketika dihubungi, baru-baru ini.
Sekadar catatan, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) melaporkan produksi logam nikel kelas 1 dan kelas 2 sepanjang 2025 mencapai 2,46—2,5 juta ton, meningkat dari realisasi produksi 2024 sebanyak 2,2 juta ton.
FINI melaporkan bahwa smelter nikel Indonesia membutuhkan kurang lebih sebanyak 300 juta ton bijih atau ore nikel untuk menghasilkan produksi logam sebanyak 2,46 juta ton tersebut.
Asosiasi mencatat kapasitas terpasang fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia sebesar 2,8 juta ton nikel yang terdiri atas 2,3 juta ton smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) dan 500.000 ton smelter hidrometalurgi berbasis HPAL
Arif sebelumnya mengungkapkan sejatinya kebutuhan bijih nikel bagi seluruh smelter—baik RKEF maupun HPAL — mencapai sekitar 350—360 juta ton.
Walhasil, saat RKAB nikel dipangkas menjadi hanya 260—270 juta ton, terdapat kekurangan pasokan bahan baku bijih nikel dalam negeri paling sedikit sekitar 90—100 juta ton.
(azr/wdh)





























