“Dinamika ini kemungkinan akan sangat terasa di pasar Asia hari ini,” tulis Kyle Rodda, analis senior di Capital.com, dalam catatan analisnya kepada para klien. “Potensi lonjakan harga minyak mentah mengancam aktivitas ekonomi di wilayah yang rentan ketahanan energinya,” tambah Rodda, seraya menyebut bahwa anjloknya saham semikonduktor juga “memicu pelepasan aset secara menyeluruh di seluruh dunia.”
Indeks Semikonduktor Bursa Philadelphia yang ternama resmi terperosok ke area bear market pada Jumat lalu. Hal ini dipicu oleh rilis model AI terbaru dari startup China, Moonshot, yang mematahkan persepsi industri terkait keunggulan AS di sektor tersebut. Sementara itu, Indeks MSCI Asia Pasifik kini berada di ambang koreksi setelah terkikis lebih dari 9% dari rekor tertingginya pada Juni lalu.
“Latar belakang risiko di Asia terus memburuk,” tulis Wee Khoon Chong, ahli strategi makro di BNY Hong Kong, dalam risetnya. “Koreksi pada saham-saham teknologi, penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak, serta ketegangan geopolitik yang persisten seluruhnya mendorong investor untuk mengambil posisi yang lebih defensif.”
Di pasar komoditas lain, emas melanjutkan tren penurunan dari pekan lalu dengan terkoreksi 0,5% hingga berada di bawah level US$4.000 per ons. Perak dan platina juga terpantau melemah karena kenaikan harga minyak memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga acuan akan bertahan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Sementara itu, media lokal Iran melaporkan bahwa pasukan AS melancarkan serangan ke Pulau Qeshm di Teluk Persia serta sejumlah kota di Iran selatan seperti Shadegan, Sirik, dan Hajiabad, tanpa rincian langsung terkait korban jiwa maupun kerusakan. Iran membalas dengan menargetkan fasilitas pembangkit listrik dan penyulingan air laut di Kuwait, yang merupakan serangan ketiga dalam tiga hari terakhir.
Meskipun permintaan aset aman menyokong penguatan dolar pada awal perdagangan, obligasi Treasury AS diprediksi menghadapi tekanan saat perdagangan tunai dibuka di London. Lonjakan harga minyak yang menembus lebih dari 20% bulan ini kembali menghidupkan kekhawatiran publik terhadap laju inflasi.
Dengan penegasan dari Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh bahwa prioritas utama bank sentral adalah meredam inflasi, para pelaku pasar kini menanti rilis data ekonomi pekan ini untuk mencari sinyal ketahanan ekonomi AS demi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga pada September atau Oktober mendatang.
“Dolar AS dapat memperoleh traksi penguatan pekan ini jika data PMI bulan Juli memperkuat narasi keunggulan kinerja ekonomi AS,” tulis Elias Haddad, Kepala Strategi Pasar Global di Brown Brothers Harriman, dalam catatannya kepada para klien.
Pergerakan utama pasar:
Saham
- Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,2% pada pukul 09.12 waktu Tokyo.
- Kontrak berjangka Hang Seng naik 0,5%.
- Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,3%.
- Kontrak berjangka Euro Stoxx 50 turun 0,7%.
Mata uang
- Indeks Bloomberg Dollar Spot relatif tidak berubah.
- Euro stabil di US$1,1430.
- Yen Jepang relatif tidak berubah di level 162,50 per dolar AS.
- Yuan offshore stabil di 6,7774 per dolar AS.
- Dolar Australia relatif tidak berubah di US$0,6982.
Aset kripto
- Bitcoin naik 0,6% menjadi US$64.879,43.
- Ether naik 1% menjadi US$1.884,72.
Obligasi
- Imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun naik enam basis poin menjadi 4,96%.
Komoditas
- Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,3% menjadi US$84,41 per barel.
- Emas spot turun 0,7% menjadi US$3.990,89 per ounce.
Artikel ini disusun dengan bantuan Bloomberg Automation.
(bbn)




























