Destry menegaskan bank sentral juga terus melakukan komunikasi intensif dengan perbankan agar hambatan distribusi likuiditas antar bank dapat teratasi dengan risiko yang terkelola dengan baik.
Selain itu, upaya pengembangan pasar uang juga terus dilakukan berkolaborasi dengan asosiasi pasar, perbankan, dan otoritas lainnya, agar tercipta pasar uang yang dalam, likuid, dan efisien.
“Surveilans dan pengawasan terus diperkuat dalam penegakan ketentuan dan memastikan perilaku pasar selalu dalam koridor yang wajar,” ujarnya.
Ke depan, BI akan terus memonitor dan memastikan kecukupan likuiditas untuk mendukung efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Strategi ini juga terus diperkuat agar distribusi likuiditas antar bank terjaga baik sehingga dapat mendukung proses proses pembentukan suku bunga secara efisien dan memperkuat efektivitas kebijakan moneter,” imbuh Destry.
Tudingan Salah Data Likuiditas Melimpah
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai anggapan bahwa likuiditas di pasar keuangan hingga perbankan melimpah kurang tepat bahkan data yang disajikan juga salah.
Menurut Purbaya, likuiditas yang dianggap memadai tersebut tidak tecermin dari sejumlah data yang ia monitor seperti angka deposito yang terkadang naik kencang. Dalam kaitan itu, dia menilai KSSK salah menggunakan data.
Hal itu mengemuka dalam rapat kerja mengenai laporan Kementerian Keuangan 2025 (audited) di Komisi XI DPR RI, Rabu (15/7/2026).
“Walaupun banyak bank yang bilang likuiditas ample [terjaga memadai], kalau bapak [Komisi XI] tanya ke LPS, BI, OJK, semua bilang ample tapi data mereka salah semua. saya di LPS cukup lama, saya coba cari indikator yang pas,” kata Purbaya dalam rapat.
“Jadi ada kesalahan data atau indikator yang kita pakai oleh KSSK selama ini. Saya sudah minta tim KSSK perbaiki itu, tapi rupanya masih belum dapat,” tambahnya.
Bendahara Negara tersebut menjelaskan data yang dipakai sebagai indikator yakni base money atau money supply (M0). Base money merupakan uang yang dikendalikan oleh BI dan merupakan bibit uang yang berikutnya terjadi.
Pada saat itu, pertumbuhan M0 stagnan atau 0% dalam beberapa bulan yakni April-Agustus 2025. Tak hanya itu, dia menyebut pada pertengahan 2023 hingga awal 2025 juga tumbuh 0%. Dia menganggap ketika pertumbuhan M0 0% menggambarkan ekonomi tengah direm.
Purbaya mencontohkan bahwa The Fed juga pernah melakukan hal yang sama lantaran tidak memonitor M0 sehingga berdampak pada kasus Silicon Valley Bank pada Maret 2023.
“Jadi M0 indikator yang valid untuk melihat apakah uang di sistem ada atau enggak. Setelah itu The Fed insyaf dan mulai inject uang ke sistem, sehingga [pertumbuhan] uang tidak minus dan mulai positif. Ini yang menyebabkan AS bisa tumbuh sampai sekarang, walau kadang-kadang bungnya agak tinggi,” jelas Purbaya.
Belajar dari hal tersebut, Purbaya mulai menggelontorkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan. Hasilnya, M0 yang pertumbuhannya 0% mulai September 2025 naik menjadi 11% dan bertahap mendekati 13%.
Dia meyakini kondisi itu juga yang membuat ekonomi Indonesia tumbuh 5,39% di kuartal IV-2025. Purbaya menyebut kondisi itu berlanjut sehingga pada kuartal I-2026 ekonomi bisa tumbuh 5,61%.
(lav)






























