Yield tenor 1 tahun terus bergerak turun dan terpangkas 5,2 basis poin (bps) menjadi 7%, tenor 2 tahun juga turun 7,4 bps menjadi 7,12%. Meski begitu, tenor likuid 5 tahun dan tenor acuan masih tinggi dan naik masing-masing 0,2 bps menjadi 7,2% dan 0,5 bps menjadi 7,25%.
Meski sebagian besar tenor turun, tetapi investor global tercatat menjual bersih (net sell) obligasi Indonesia sebesar US$162,2 juta pada 15 Juli.
Sementara itu, Bank Indonesia hari ini berhasil meraup Rp17 triliun dari hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sebagai salah satu instrumen moneter andalan. Adapun total penawaran yang masuk mencapai Rp37,93 triliun. Permintaan terbesar datang dari tenor 12 bulan, dengan penawaran mencapai Rp32,59 triliun.
Pekan depan, perhatian pasar kembali tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Bank sentral diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6%.
Sebab, penguatan rupiah diperkirakan masih rapuh. Sebagai catatan, nilai tukar rupiah secara bertahap melemah sejak awal Juni.
Untuk diketahui, meski sepanjang pekan ini mencatat penguatan 0,89%, rupiah sebenarnya sepanjang 2026 telah menjadi salah satu mata uang terlemah dengan depresiasi sebesar 6,73%.
Menurut Analis HSBC Paul Mackel, seperti dikutip Bloomberg News, sejumlah risiko masih membayangi pergerakan rupiah. Seperti, defisit transaksi berjalan yang makin melebar, arus keluar investasi portofolio, iklim usaha dan sentimen domestik yang belum sepenuhnya kondusif, serta adanya penurunan cadangan devisa.
Sehingga, meski sepanjang pekan ini rupiah menguat, beberapa analis menilai BI diperkirakan akan melanjutkan siklus pengetatan moneter pada pekan depan.
(dsp/aji)





























