Dalam cetak biru tersebut, robotika ditetapkan sebagai salah satu industri strategis yang harus dikuasai untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi luar negeri sekaligus meningkatkan daya saing manufaktur nasional.
Baca Juga: Proses Panjang Perang Teknologi AS dan China, Ini Penjelasannya
Sejak itu pemerintah pusat hingga pemerintah daerah mulai menggelontorkan berbagai bentuk dukungan, mulai dari insentif fiskal, pendanaan riset, pembangunan kawasan industri robotika hingga mendorong kolaborasi antara perusahaan teknologi, universitas dan pelaku manufaktur.
Hasil dari strategi tersebut mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Data International Federation of Robotics (IFR) menunjukkan China memasang sekitar 295.000 robot industri pada 2024 atau sekitar 54% dari total instalasi robot baru di dunia.
Lebih jauh dinyatakan bahwa jumlah robot yang beroperasi di negara itu kini telah melampaui 2 juta unit, sementara produsen domestik untuk pertama kalinya menguasai lebih dari separuh pasar robot industri di dalam negeri.
Pencapaian tersebut mencerminkan perubahan besar dibanding satu dekade lalu ketika pasar robot China masih didominasi produk impor dari Jepang dan Eropa.
Takayuki Ito, Presiden International Federation of Robotics (IFR), menilai keberhasilan China merupakan hasil strategi nasional yang secara konsisten memperkuat daya saing manufaktur.
Ito meyakini bahwa China berhasil meningkatkan kapasitas industri robot dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya melalui kombinasi kebijakan pemerintah, investasi dan pengembangan industri dalam negeri.
Baca Juga: Konsumen China Tinggalkan LVMH demi Brand Lokal
"China berhasil mentransformasi industri manufakturnya dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya. Melalui strategi nasional di sektor robotika, negara itu menunjukkan bagaimana daya saing industri dapat dibangun secara sistematis," ujar Ito.
Namun, kebijakan pemerintah bukan menjadi satu-satunya faktor di balik pesatnya perkembangan robotika China.
Keunggulan terbesar China justru terletak pada ekosistem manufakturnya yang telah terbentuk selama puluhan tahun.
Berbeda dengan banyak negara lain, hampir seluruh komponen utama robot—mulai dari baterai, motor listrik, sensor, aktuator hingga kamera—dapat diproduksi di dalam negeri.
Rantai pasok yang terintegrasi itu membuat biaya produksi robot China jauh lebih kompetitif dibandingkan produk dari Amerika Serikat maupun Eropa.
Pada saat yang sama, besarnya pasar domestik menjadikan China sebagai laboratorium nyata bagi perusahaan robotika. Ribuan pabrik otomotif, elektronik hingga logistik menjadi tempat menguji sekaligus menyempurnakan robot sebelum dipasarkan secara lebih luas.
Jika robot industri konvensional hanya menjalankan perintah yang telah diprogram, robot generasi terbaru mulai dibekali kemampuan memahami lingkungan sekitar, mengenali objek, berinteraksi dengan manusia hingga mengambil keputusan secara mandiri melalui model AI yang semakin canggih.
Kondisi tersebut melahirkan gelombang baru perusahaan robotika China seperti Unitree Robotics, UBTech, AgiBot hingga Fourier Intelligence yang kini berlomba mengembangkan robot humanoid untuk berbagai kebutuhan industri maupun layanan publik.
Pada April tahun lalu, China menjadi negara pertama yang menggelar half marathon yang diikuti robot humanoid bersama pelari manusia.
Meski tidak seluruh peserta berhasil mencapai garis finis, ajang tersebut memperlihatkan sejauh mana kemampuan robot menjaga keseimbangan, berlari dalam jarak jauh dan beradaptasi dengan berbagai kondisi lintasan.
Kolaborasi empat perusahaan robotika Jepang dengan Nvidia menjadi salah satu contoh bagaimana persaingan industri robot global tidak lagi sekadar soal kemampuan mekanik, tetapi juga perlombaan menggabungkan perangkat keras dengan kecerdasan buatan.































