Logo Bloomberg Technoz

Sebab, penguatan rupiah diperkirakan masih rapuh. Sebagai catatan, nilai tukar rupiah secara bertahap melemah sejak awal Juni, dan kembali mencatat kinerja buruk daripada mata uang negara berkembang lainnya. 

Bloomberg Economics menilai, berbagai indikator stabilitas nilai tukar yang dimiliki BI menunjukkan bahwa pengetatan moneter lebih lanjut masih diperlukan. Pengetatan tersebut demi memperkuat kepercayaan pasar setelah munculnya sejumlah kebijakan yang secara signifikan justru meningkatkan persepsi risiko investasi. 

Hal senada diungkap Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist dari Mega Capital Sekuritas. Dia menilai kenaikan BI Rate untuk menjaga stabilitas rupiah di level saat ini Rp17.700-Rp18.100/US$ tetap dibutuhkan.  

Namun, pergerakan rupiah ke depan tidak cuma ditentukan oleh seberapa agresifnya BI menaikkan suku bunga acuan. Melainkan stabilitas harga minyak, ketegangan Timur Tengah, serta ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. 

Jika ketiga faktor ini belum menemukan titik keseimbangan, maka rasanya rupiah diperkirakan masih akan bergerak dalam tekanan dan BI kemungkinan harus mempertahankan sikap hawkish lebih lama. 

(dsp/aji)

No more pages