Kemarin, harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.060,3/troy ons. Naik terbatas 0,15% dibandingkan hari sebelumnya.
Tertahannya laju harga emas dunia disebabkan oleh pelaku pasar yang sepertinya kurang yakin terhadap arah perekonomian, terutama di Amerika Serikat (AS). Di satu sisi, ada kelegaan karena inflasi di Negeri Paman Sam melambat signifikan.
US Bureau of Labor Statistics mengumumkan, laju inflasi di Negeri Adikuasa pada Juni ada di 3,5% secara tahunan. Cukup jauh melambat ketimbang bulan sebelumnya yakni 4,2% dan berada di bawah ekspektasi pasar dengan proyeksi 3,8%.
Sementara laju inflasi inti secara tahunan pada Juni adalah 2,6%. Lebih rendah dibandingkan Mei yang 2,9%, juga di bawah proyeksi pasar di 2,8%.
Secara bulanan, yang terjadi adalah deflasi sebesar 0,4% pada Juni. Ini adalah yang terendah sejak April 2020.
Namun di sisi lain, ada pula ekspektasi bahwa inflasi AS yang melambat hanyalah oasis di padang pasir. Kenikmatan sesaat, hanya mampir sebentar, sedangkan perjalanan masih panjang dan berat.
Inflasi AS kemungkinan akan kembali melonjak pada Juli. Sebab, bulan ini situasi di Timur Tengah kembali memanas.
AS dan Iran kembali bersitegang dan melancarkan jual-beli serangan. Konflik yang memanas ikut ‘mendidihkan’ harga minyak dunia.
Dalam sebulan terakhir, harga minyak jenis brent melesat lebih dari 8%.
Alhasil, dunia masih dihantui ancaman inflasi tinggi seiring kenaikan harga energi. Ini membuat bank sentral di berbagai negara, termasuk Federal Reserve dari AS, tidak punya banyak pilihan selain mengetatkan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan.
“Data inflasi Juni mungkin menjadi kabar baik bagi The Fed, meski bukan berarti misi selesai,” tukas Omair Sharif, Presiden Inflation Insight LLC, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Sementara dalam rapat dengan Kongres AS, Gubernur The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmennya untuk membawa inflasi ke arah target 2%. The Fed disebutnya memiliki berbagai perangkat (tools) untuk menuju ke sana.
"Kami memiliki berbagai perangkat untuk melakukannya. Ke depan, saya akan meminta para kolega saya untuk 'bertarung' mengenai dosis dan kapan waktu yang tepat untuk menerapkannya," tegas Warsh, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi, demikian pula sebaliknya.
(aji)





























