"Wabah ini terus menghancurkan komunitas yang terdampak, sehingga menegaskan kebutuhan mendesak akan vaksin dan pengobatan yang efektif," kata Teresa Lambe, ahli imunologi dari University of Oxford yang memimpin pengembangan ilmiah vaksin tersebut, dalam sebuah pernyataan.
Hingga saat ini belum ada vaksin yang disetujui maupun pengobatan khusus untuk virus Ebola strain Bundibugyo. Vaksin Ebola yang telah mendapat izin edar saat ini hanya menargetkan strain Zaire dan belum disetujui untuk melawan Bundibugyo, sehingga otoritas kesehatan belum memiliki vaksin yang dapat digunakan dalam wabah yang sedang berlangsung.
Meski vaksin Bundibugyo ini berhasil dikembangkan, kecil kemungkinan vaksin tersebut dapat mengubah jalannya wabah saat ini dalam waktu dekat. Uji klinis tahap awal "bukan solusi langsung bagi masyarakat yang sedang menghadapi wabah saat ini," ujar Direktur Jenderal Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), Jean Kaseya. Namun, menurutnya, uji coba ini sangat penting untuk mempersiapkan perangkat yang lebih baik dalam menghadapi epidemi di masa depan.
Mengidentifikasi kasus Ebola secara cepat dan melacak kontak erat pasien diperkirakan akan lebih efektif dalam menekan angka kematian dibandingkan dengan hanya memvaksinasi kontak pasien—strategi yang dikenal sebagai ring vaccination—apabila vaksin Ebola yang ada saat ini hanya memberikan perlindungan terbatas terhadap strain Bundibugyo. Hal itu berdasarkan sebuah studi pemodelan yang dirilis pada Senin menjelang proses telaah sejawat (peer review) dan publikasi.
Para peneliti juga menemukan bahwa vaksinasi terhadap komunitas yang lebih luas akan memberikan dampak terbesar apabila dapat dilakukan dengan cepat dan dalam cakupan yang memadai.
(bbn)































