Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) sebelumnya menyatakan pasukan AS melancarkan gelombang baru serangan untuk melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran di Selat Hormuz dengan menyasar puluhan target. Iran kemudian membalas pada Senin dengan melancarkan serangan terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk Persia, termasuk pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Oman, menurut media pemerintah Iran.
Konflik terbaru tersebut semakin meredupkan harapan tercapainya perdamaian dalam perang yang telah mengguncang pasar global sejak Februari. Kenaikan harga energi akibat konflik juga kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, konflik tersebut belum mampu menghentikan reli pasar saham sepanjang tahun ini. Pasar saham tetap bertahan berkat booming kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta kinerja sektor energi dan industri.
Namun, saham-saham teknologi masih tertinggal di tengah ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran terhadap inflasi. Sektor teknologi informasi saat ini menjadi sektor dengan kinerja terburuk di indeks S&P 500.
"Valuasi sejumlah perusahaan teknologi dan AI kembali menjadi sorotan karena investor mulai mempertanyakan keberlanjutan belanja terkait AI di tengah kenaikan suku bunga global," kata Kepala Strategi Investasi Global Wells Fargo Investment Institute Paul Christopher. "Kami melihat pasar mulai membedakan antara perusahaan yang memperoleh manfaat dari AI dan perusahaan yang hanya mengeluarkan belanja besar untuk AI."
Ujian Pasar
Kinerja pasar saham AS akan menghadapi ujian penting pekan ini dengan dirilisnya sejumlah data ekonomi, termasuk indeks harga konsumen (CPI) pada Selasa, disusul indeks harga produsen (PPI) dan data sentimen konsumen.
Musim laporan keuangan juga mulai bergulir dengan sejumlah bank besar, seperti JPMorgan Chase & Co. dan Goldman Sachs Group Inc., dijadwalkan merilis kinerja keuangannya.
"Pasar telah terlalu bergantung pada narasi optimistis dibandingkan data ekonomi yang dapat diamati secara langsung," kata Chief Investment Officer Muriel Siebert & Co. Mark Malek. "Namun, kenyataannya menunjukkan hal yang berbeda."
Pada perdagangan saham individual, American depositary receipts (ADR) SK Hynix Inc. anjlok 9,3% setelah reli saham berbasis AI di Korea Selatan kembali berada di bawah tekanan. Sementara itu, saham TriCo Bancshares melonjak 12% setelah First Hawaiian Inc. sepakat mengakuisisi induk Tri Counties Bank.
Sektor yang Menjadi Sorotan
Aksi jual saham berbasis AI di Korea Selatan turut menyeret saham produsen chip memori lain, termasuk Micron, sehingga memperkuat kekhawatiran investor bahwa reli sektor AI mulai berlebihan.
Sementara itu, Bernstein memangkas target harga sejumlah perusahaan telekomunikasi dengan alasan meningkatnya risiko persaingan dari layanan internet satelit Starlink milik SpaceX.
Di sisi lain, saham-saham perusahaan operator jaringan pipa menguat setelah Wells Fargo memberikan rekomendasi overweight dengan prospek pertumbuhan yang dinilai positif.
(bbn)






























