Kenaikan yield di pasar SUN dipicu oleh memanasnya ketegangan di Timur Tengah yang semakin memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi tersebut diperkirakan akan terus mendorong kenaikan yield obligasi, baik tenor pendek maupun panjang.
Memang, obligasi tenor pendek cenderung lebih rentan sebab pasar mulai memperhitungkan kebijakan moneter yang lebih hawkish. Data inflasi AS, dan kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Kongres juga berpotensi membuat pelaku pasar semakin yakin bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga pada September mendatang.
Bagi pasar obligasi RI, kenaikan yield tenor pendek ini menunjukkan bahwa investor masih bersikap defensif terhadap ketidakpastian global yang menyeret aset-aset di pasar negara berkembang.
Normalnya, obligasi tenor panjang menawarkan yield lebih tinggi sebagai kompensasi risiko waktu. Tapi, saat ini tenor pendek justru menawarkan yield yang hampir setara dengan tenor 10 tahun.
Kondisi ini mencerminkan bahwa pelaku pasar sepertinya lebih mengkhawatirkan risiko kebijakan moneter dan inflasi dalam satu hingga tiga tahun ke depan, ketimbang prospek jangka panjang.
Selama konflik di Timur Tengah masih berpotensi mengganggu pasokan energi dan membuat harga minyak bertahan di level tinggi, maka volatilitas pasar obligasi diperkirakan tetap tinggi.
Meski begitu, stabilnya tenor panjang masih memberi sinyal bahwa secara fundamental Indonesia masih dinilai relatif kuat. Yield SUN tenor 11 tahun tercatat turun 3,6 bps menjadi 7,28%, tenor 12 tahun turun 1,1 bps jadi 7,26%. Posisi yield tenor panjang yang berada di kisaran 7,2%-7,3% dinilai masih cukup menarik dibanding negara emerging market lain.
(dsp)




























