Logo Bloomberg Technoz

Konsep desa wisata yang ditawarkan Liz, lewat Dapur Tara, jauh dari kesan premium dan glamor seperti yang ditawarkan hotel-hotel mewah di pesisir Kota Labuan Bajo. Tujuan utama adalah membangun komunitas masyarakat setempat untuk lebih mengenal lebih dalam kearifan lokal dan melestarikan budaya setempat. Selain itu, ia membangun sekolah yang lebih adaptif terhadap kondisi masyarakat setempat. 

Bagi Liz, Dapur Tara, menjadi tempat ia banyak belajar mengenai budaya setempat meskipun dia berasal dari Maumere, daerah di bagian utara Pulau Flores. Tak sungkan ia berinteraksi dengan para tokoh masyarakat dan orang tua yang mengerti tentang sejarah dan budaya lokal, ke berbagai kampung di daerah Manggarai Barat. 

“Saya datang ke rumah mereka, saya berdialog, tapi bukan seperti penelitian ilmiah dari kampus-kampus. Mereka pasti tidak mau berbagi soal nilai-nilai penting di masyarakat kalau dilakukan dengan cara seperti itu. Saya ikut semua kegiatan mereka, dan mereka mau berbagi informasi tentang nilai-nilai budaya yang menurut mereka hanya bisa disampaikan kepada orang tertentu,” kata Liz. 

Liz, yang pernah melakoni profesi seorang bidan di Bali, memulai membangun desa wisata ini pada 2019. Dari interaksinya dengan masyarakat setempat, ia akhirnya punya pengetahuan dan pemahaman tentang budaya lokal. Inilah yang ia terjemahkan sebagai konsep dasar Desa Wisata Dapur Tara.

Sekadar informasi, Dapur Tara tak hanya menyajikan kuliner khas Flores. Ada penginapan, yang mayoritas digunakan wisatawan mancanegara. Dalam satu tahun, berdasarkan informasi dari Liz, rerata 2.000 turis per tahun berkunjung, dengan masa tinggal rerata tiga hari. Selama berkunjung di Dapur Tara, para pengunjung akan mendapatkan pengalaman hidup kembali ke alam. 

Salah satu penginapan di Dapur Tara, di Manggarai Barat, Nusantara Tenggara Timur (NTT). Dok: BCA

Koneksi internet sengaja dibatasi. “Kami sudah sebutkan di website kami, koneksi internet tidak ada. Agar tamu detoks digital,” kata Liz, dan ini benar karena selama kami di lokasi memang tidak ada koneksi jaringan seluler.  

Untuk makan, Dapur Tara menyediakan makanan khas Flores. Uniknya makanan tersebut bisa disiapkan sendiri oleh para tamu, melalui kelas memasak. Semua bahan makanan ditanam dan diproduksi di lahan sendiri tanpa menggunakan pupuk kimia. 

Makan bagi masyarakat Flores, kata Liz, bukan sekadar memenuhi kebutuhan jasmani. Makan merupakan perayaan, tentang kebahagian berkumpul bersama keluarga, berbagi makanan, berbagi cerita dalam satu ruang bersama. Dan makan harus dilakukan dengan duduk bersama di alas rumah. 

“Budaya kita tidak mengenal kursi,” tambah Liz.

Masak di Dapur Tara menggunakan kayu bakar, untuk mempertahankan nilai lokal. Dok: BCA

Dapur Tara saat ini mempekerjakan 15 orang yang berasal dari desa sekitar. Mereka dibayar dengan gaji di atas upah minimum regional (UMR), tanpa menyebutkan nominal yang pasti.  Liz berharap desa wisata ini terus berkembang dan lebih banyak masyarakat setempat maupun dari kampung sekitar yang terlibat. 

Kisah Liz dengan Dapur Tara menjadi contoh bagi Bakti BCA untuk mengembangkan 9 desa binaan dalam program Corporate Share Value (CSV), melalui pelatihan. Dalam pelatihan ini, pendekatan gastronomi end-to-end menjadi titik tekan. Dimana proses memasak mulai dari pemilihan dan pengolahan bahan baku lokal, teknik memasak, hingga cara menata dan menyajikan hidangan agar tampil lebih menarik di mata wisatawan. 

Melalui pendekatan ini, peserta diajak mempraktikkan langsung setiap tahapan penyajian, dengan pendampingan dari Dapur Tara, pelaku usaha kuliner berbasis budaya Flores yang berlokasi di kawasan Labuan Bajo, sebagai fasilitator workshop ini. EVP Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk atau BCA, Hera F. Haryn mengatakan program yang diikuti oleh 9 pengelola Desa Bakti BCA ini digelar sebagai wujud komitmen Bakti BCA dalam mendukung desa binaan dan memaksimalkan potensi yang dimiliki masing-masing desa, salah satunya di bidang gastronomi. 

“Kuliner lokal adalah salah satu potensi yang paling dekat dengan keseharian masyarakat desa. Melalui workshop ini, kami ingin mendorong para pengelola Desa Bakti BCA untuk semakin percaya diri menyajikan cita rasa dan budaya khas daerahnya dengan standar penyajian yang lebih baik, sehingga dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat desa,” tambah Hera.

(red)

No more pages