Logo Bloomberg Technoz

Kemudian, lanjut dia, Kementerian ESDM terus mendorong percepatan pemanfaatan minyak mentah dari sumur masyarakat yang saat ini mulai dijual ke PT Pertamina (Persero).

“Semua temuan-temuan yang kecil-kecil, sumur masyarakat itu kita kumpulkan biar bisa dijadikan angka yang lebih besar untuk menambah produksi,” ujar Laode.

Pengeboran Sumur MNK Kedua Blok Rokan. (dok: Kementerian ESDM)

Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkap alasan penurunan produksi minyak dari dua produsen minyak terbesar di Indonesia, yaitu PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan ExxonMobil Cepu Ltd.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan hal ini dipengaruhi adanya sejumlah gangguan operasional yang terjadi sejak awal 2026.

Pada kuartal pertama misalnya, terjadi kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang berdampak pada tujuh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di Terminal Dumai, serta dua pemasok gas lainnya.

"Untuk realisasi produksi kalau kita lihat di grafik ini, pada Januari sangat rendah karena terjadi pipa putus, sehingga tujuh KKKS produksinya sempat berhenti," ungkap Djoksis, sapaan karibnya, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (3/6/2026).

Gangguan tersebut teratasi. Namun, pada kuartal kedua muncul kendala baru berupa gangguan kelistrikan di wilayah kerja PT PHR dan penurunan produksi di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu yang dioperasikan ExxonMobil Cepu Ltd.

"Setelah itu ada problem kelistrikan di PHR dan dilanjutkan dengan penurunan produksi di Banyu Urip, di mana dua blok migas ini merupakan penopang terbesar produksi nasional kita," bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PHR Muhammad Arifin menilai bahwa masalah listrik telah terjadi sejak akhir 2025. Saat ini PHR terus melakukan koordinasi terkait perbaikan kepada PLN dan ditargetkan selesai pada Juli 2026. 

“Proses penyelesaian perbaikan dari genset di net dependable capacity [NDC] yang dioperasikan oleh PLN sedang dilakukan dan mudah-mudahan di pertengahan Juli, kita bisa beroperasi kembali,” ungkap Arifin. 

Hingga Mei 2026, produksi minyak, kondensat, dan NGL dari PT Pertamina Hulu Rokan mencapai 131.040 bph, atau baru terpenuhi 80% dari target APBN sebesar 163.859 bph.

“Sekarang year to date-nya di Rokan, produksi kita sudah di 131.000 bph dan insyaallah diprognosakan kalau semuanya lancar,” tambahnya.

Senior Vice President ExxonMobil Indonesia, Muhammad Nurdin mengakui adanya penurunan produksi melalui lapangan Banyu Urip (Blok Cepu) karena kendala teknis (decline/reklame produksi).

"Kami yakin, dengan kapabilitas teknologi global yang dimiliki ExxonMobil serta keunggulan dalam eksekusi lapangan [execution excellence], kami mampu men-deliver target dan mengoptimalkan kembali hasil produksi dari Blok Cepu," ujarnya.

Dalam catatan SKK Migas, produksi minyak ExxonMobil Cepu Ltd hingga Mei 2026 mencapai 129.915 bph atau baru terpenuhi 87,5% dari target APBN.

SKK Migas mencatat lifting minyak mentah hingga Mei 2026 mencapai angka 491.300 barel per hari (bph) atau barrel oil per day (bopd).

Selain itu, lifting kondensat sebesar tercatat sebesar 55.800 bopd dan produksi Natural Gas Liquids (NGL) sebesar 29.100 BOPD.

Jika dijumlah total lifting minyak, kondensat, dan NGL periode hingga Mei 2026 adalah sebesar 576.200 bopd.

Adapun, target lifting minyak tahun ini ditargetkan sebesar 610.000 bph.

Sementara itu, untuk gas, hingga akhir Mei 2026 SKK Migas mencatat produksi mencapai 6.550 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan salur gas mencapai 5.207 MMSCFD.

(azr/wdh)

No more pages