Dia menilai pasar migas global masih bakal bergerak secara dinamis dan belum dapat dipastikan benar-benar segera pulih.
“Jadi kita itu masih melihat masih dinamis. Jadi kita belum yakin betul bahwa, oh ini sudah turun. Belum. Kita masih melihat dinamika ini,” tegas Laode.
Saling serang udara selama dua hari serta pemberlakuan kembali sanksi minyak oleh Amerika Serikat membuat gencatan senjata yang dicapai Presiden Donald Trump dengan Iran bulan lalu berada dalam kondisi yang tidak menentu.
Pada tahap awal, nota kesepahaman yang mulai berlaku pada 18 Juni itu dirancang untuk mengakhiri seluruh permusuhan, memberikan keringanan sanksi bagi Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz.
Akan tetapi, kesepakatan tersebut belum sepenuhnya berhasil mencapai ketiga tujuan itu. Bahkan, Trump pada Rabu mengatakan bahwa kesepakatan tersebut telah "berakhir". Meski demikian, perjanjian itu belum secara resmi dibatalkan, dan beberapa ketentuannya masih tetap dijalankan.
Pemulihan pasokan minyak Timur Tengah berisiko terhambat jika ketegangan yang kembali memanas mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, demikian menurut Goldman Sachs Group Inc.
Produksi minyak mentah di Teluk Persia pada Juni masih sekitar 10,5 juta barel per hari di bawah level sebelum perang, menurut perkiraan Goldman.
“Meski produsen Timur Tengah telah mulai membuka kembali sumur-sumur mereka yang ditutup selama bulan lalu, gangguan di Selat Hormuz dapat memperlambat pemulihan produksi,” kata para analis termasuk Yulia Zhetkova Grigsby dalam catatan tanggal 8 Juli.
Pasar energi global terguncang pekan ini akibat bangkitnya konflik antara Washington dan Teheran, yang mendorong harga kontrak berjangka minyak mentah Brent sempat kembali ke atas US$80/barel.
Lalu lintas kapal melalui selat tersebut nyaris terhenti setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan untuk hari kedua, menguji kesepakatan damai yang rapuh, yang muncul setelah serangkaian serangan terhadap kapal di perairan tersebut.
Goldman memperkirakan arus minyak melalui Teluk Persia telah kembali menurun mendekati 70% dari tingkat normal setelah serangan terbaru terhadap kapal tanker, setelah sebelumnya pulih hingga lebih dari 80% dari arus sebelum perang dalam 10 hari pertama setelah pembukaan kembali Selat Hormuz.
Bulan lalu, Goldman Sachs termasuk di antara bank-bank yang menurunkan proyeksi harga minyak seiring meningkatnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz. Para analisnya juga telah memperingatkan potensi kembalinya kelebihan pasokan minyak mentah.
Minyak Brent untuk pengiriman September turun 0,3% menjadi US$76,08 per barel pada pukul 08.21 di Singapura hari ini. Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus turun 0,3% menjadi US$71,87 per barel.
(azr/wdh)






























