Lalu lintas kapal melalui selat tersebut nyaris terhenti setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan untuk hari kedua, menguji kesepakatan damai yang rapuh, yang muncul setelah serangkaian serangan terhadap kapal di perairan tersebut.
Presiden Donald Trump mengatakan pada Rabu bahwa kesepakatan damai sementara antara Washington dan Teheran telah berakhir, sementara AS juga mencabut pengecualian yang mengizinkan penjualan minyak Iran. Namun, negosiasi dengan Iran mungkin akan berlanjut, tambahnya.
“Serangan baru-baru ini terhadap kapal tanker menyoroti risiko yang masih tinggi saat melintasi selat tersebut, dan operator kapal mungkin ragu untuk melintas di tengah status gencatan senjata yang saat ini tidak jelas, sehingga akan membebani arus minyak di Selat Hormuz dalam jangka pendek,” kata para analis.
Goldman memperkirakan arus minyak melalui Teluk Persia telah kembali menurun mendekati 70% dari tingkat normal setelah serangan terbaru terhadap kapal tanker, setelah sebelumnya pulih hingga lebih dari 80% dari arus sebelum perang dalam 10 hari pertama setelah pembukaan kembali Selat Hormuz.
Saat ini, risiko terhadap arus minyak di Teluk Persia dan harga minyak bersifat dua sisi, kata Goldman. Pengiriman diperkirakan akan pulih pada akhir Juli jika negosiasi 60 hari berlanjut, bersamaan dengan jaminan keamanan bagi pengirim dan pengecualian baru untuk penjualan minyak mentah Teheran, tetapi mungkin akan turun lebih lanjut jika negosiasi gagal dan serangan terhadap kapal tanker meningkat.
Bulan lalu, Goldman Sachs termasuk di antara bank-bank yang menurunkan proyeksi harga minyak seiring meningkatnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz. Para analisnya juga telah memperingatkan potensi kembalinya kelebihan pasokan minyak mentah.
(bbn)






























