Sebagai alternatif, pelaku usaha memilih mengurangi ukuran, takaran, atau volume produk agar harga jual tetap terjangkau bagi konsumen. Meski demikian, Subandi mengakui strategi tersebut tidak dapat diterapkan pada semua jenis barang.
Jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, kata dia, perusahaan kemungkinan akan mengambil langkah ketiga, yakni mengurangi volume impor.
"Mengurangi volume import berarti menurunkan produksi. Menurunkan produksi berarti menurunkan aktifitas industri dengan cara mengurangi jam kerja karyawan," jelasnya.
Di sisi lain, dampak ini juga akan merambat kepada pengurangan jam kerja akan berdampak pada menurunnya pendapatan pekerja karena berkurangnya lembur. Bahkan, jika pelemahan rupiah semakin dalam hingga mencapai Rp20.000/US$ perusahaan dapat mempertimbangkan merumahkan pekerja sementara hingga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
"Karenanya Ginsi berharap pada pemerintah untuk secara serius mengendalikan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing tidak semakin terpuruk," kata Subandi.
"Saya yakin pemerintah serius mengatasi pelemahan rupiah, namun narasi yang disampaikan jangan seolah-olah menganggap remeh, karena faktanya tren penurunan mata uang rupiah masih terus berlanjut hingga saat ini," pungkasnya.
Sebagai catatan, nilai tukar rupiah kembali menembus level psikologis Rp18.000/US$. Pada Rabu (8/7/2026) pukul 10:43 WIB, US$ 1 dibanderol Rp18.002 di perdagangan pasar spot.
(ain)

































