Logo Bloomberg Technoz

Menurut Amodei, perusahaan memang bisa menggunakan AI untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan sumber daya lebih sedikit sehingga berujung pada PHK. Namun, AI juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan lebih banyak output dengan jumlah pekerja yang sama apabila perusahaan mampu berinovasi.

Dalam laporan yang diterbitkan Juni lalu, Amodei menegaskan bahwa peringatannya mengenai potensi hilangnya pekerjaan ditujukan agar pemerintah dan sektor swasta memiliki waktu untuk beradaptasi, bukan sebagai "nabi akhir zaman".

Meski demikian, ia mengakui risiko kehilangan pekerjaan dalam jangka panjang masih tetap ada, seperti dikutip dari Wall Street Journal, Selasa (7/7/2026).

Perubahan narasi tersebut muncul ketika perusahaan-perusahaan teknologi justru masih melakukan efisiensi tenaga kerja untuk mengalihkan anggaran ke investasi AI.

CEO Meta Platforms Mark Zuckerberg, misalnya, mengatakan apabila perusahaan lebih berfokus meningkatkan produktivitas manusia dibanding sekadar otomatisasi, maka jumlah pekerjaan di masa depan justru bisa bertambah.

Pernyataan tersebut disampaikan tidak lama setelah Meta mulai memangkas sekitar 8.000 pekerja pada Mei lalu sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi.

Ilustrasi dampak positif berkelanjutan dari teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dok: Qilai Shen/Bloomberg

CEO Amazon Andy Jassy juga mulai berbicara mengenai potensi AI menciptakan lapangan kerja baru, meskipun setahun sebelumnya ia menyampaikan bahwa AI akan mengurangi kebutuhan tenaga kerja perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.

Amazon menegaskan PHK sekitar 16.000 pekerja yang dilakukan setelahnya bukan disebabkan adopsi AI, melainkan bagian dari penyederhanaan struktur organisasi.

Perubahan sentimen tersebut juga tercermin dalam survei EY-Parthenon. Persentase CEO yang meyakini investasi AI akan menyebabkan pengurangan besar jumlah pekerja turun dari sekitar 46% pada Januari 2025 menjadi hanya 20% pada Mei tahun ini

Profesor ekonomi Massachusetts Institute of Technology (MIT) David Autor menilai para pelaku industri kemungkinan mulai menyadari bahwa pasar tenaga kerja tidak berubah secepat yang sebelumnya diperkirakan.

"Mungkin mereka juga menyadari bukan strategi bisnis yang baik jika mengatakan produk baru mereka akan menghancurkan perekonomian," ujarnya.

Baca Juga: CEO Anthropic Sebut Ada Raksasa Teknologi yang Berlebihan Ambil Risiko

Studi terbaru dari perusahaan teknologi finansial Ramp bersama Revelio Labs lantas menunjukkan perusahaan yang paling agresif berinvestasi di AI justru mencatat pertumbuhan jumlah pekerja sekitar 10% lebih tinggi dibanding perusahaan sejenis yang belum mengadopsi AI.

Sam Altman menambahkan dengan mengklaim mereka yang paling banyak mengadopsi AI juga menjadi perusahaan yang paling aktif merekrut pekerja.

Menurutnya, AI akan menciptakan permintaan terhadap jenis pekerjaan baru yang saat ini bahkan belum ada.

Meski demikian, perdebatan mengenai dampak jangka panjang AI terhadap lapangan kerja belum berakhir. Sejumlah ekonom masih berbeda pandangan mengenai apakah AI pada akhirnya akan menciptakan lebih banyak pekerjaan dibanding yang dihilangkannya.

Survei Emergn terhadap eksekutif perusahaan juga menunjukkan implementasi AI di dunia usaha belum sepenuhnya berjalan mulus.

Sekitar 20% pemimpin perusahaan di Amerika Serikat mengaku laporan implementasi AI yang mereka terima menggambarkan hasil yang lebih baik dibanding kondisi sebenarnya, sementara sejumlah kegagalan implementasi tidak dilaporkan secara terbuka. 

Infografis Daftar Pekerjaan yang Terancam Punah, Siap-siap Ganti Profesi (Asfahan/Bloomberg Technoz)

(fik/wep)

No more pages
← Prev article

Artikel Terkait

Baca Juga

Lainnya

Bloomberg Businessweek Indonesia

Z-Zone